Nikmatnya bernafas Normal

Tulisan ini saya copy – paste dari adek kelas saya di ITB, Arif Pandu Winarta, beliau juga tinggal di asrama Bumi Ganesha (BG), Cisitu Lama 35, Bandung, sama seperti saya…

Beberapa kesamaannya adalah: kuliah di ITB, tinggal di asrama Bumi Ganesha (BG), Cisitu Lama 35, Bandung, juga sama2 kena kanker.  Bedanya beliau kena di paru2 sementara saya kena lambung.

Saya sangat terkesan dengan tulisannya ini, yang di posting di tumbler, 1 Oktober 2016, menurut saya sangat inspiratif.  Ini adalah tulisannya tentang penyakit yang dialaminya dan merupakan diary #1 yang akan bersambung… namun takdir rupanya menentukan tidak ada lagi sambungan tulisan beliau karena telah berpulang ke hadirat Allah swt. pada 30 November 2016 jam 03.00 pagi. Dua bulan setelah menulis artikel berikut…

Insya Allah beliau husnul khotimah, mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt. semoga tulisan beliau ini bisa menjadi hikmah bagi kita semua serta menjadi amal ibadah beliau…

Nikmatnya bernafas normal

Catatan diary #1

Pagi ini terasa berbeda seperti biasanya. Sudah hampir 5 bulan terbaring dan terhisap dalam roda roda kehidupan bahwa aku yakin bisa survive dan sembuh dari penyakit ini. Penyakit ini terus menggerogoti badan yg dulunya bisa disebut atletis kini tinggal kulit dan tulang. Badan ini terasa ringan, seperti yakin bisa lari sekencang mungkin tapi apa daya untuk berdiri aja butuh usaha yg luar biasa. Sudah gak terhitung lagi ini day ke 150- sekian aku masih bisa tersenyum dan mengucap syukur masih diberikan kehidupan setiap paginya.

Terbesit dalam lamunan, mencoba untuk update dan menulis sedikit coretan yg terinspirasi dari buku chicken soup untuk menumpahkan uneg2 agar menjadi bahan instrospeksi bahwa kamu masih disayang dan sedang diperhatiin oleh Allah. Aku mendapat tumor paru2 di sebelah kanan, kata dokternya aku menderita penyakit timoma. Aku dibawa dari Jakarta ke Yogyakarta untuk dirawat di rumah. Bunda takut di Jakarta. Macet dan bingung mau kemana mana, maklum keluarga kami dari desa dan tidak pernah sakit. Ini pengalaman pertama bagi keluarga saya divonis penyakit yg “agak” berat. Paham kami orang miskin dilarang sakit. Karena biaya dokter dan rumah sakit amatlah mahal bagi kami waktu itu. Apapun yg terjadi kami harus tetap sehat.

Masih bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki berapa kemoterapi, sinar, rontgen, CT scan, infus, obat obatan, opname dan semua efek sampingnya yg alhamdulillah masih bisa bertahan. Yg jadi problem adalah yg diserang adalah paru paru. Tempat kita bernafas. Coba kalo gak bisa bernafas rasanya gimana. Tahan nafas aja 5 menit, kita akan cepet cepet bwt kembali menghirup udara segar. Saya udah membuktikan kalo ceramahnya ustad ustad tentang nikmat bersyukur masih bisa bernafas dan kita tidak disuruh membayar oksigen untuk hidup itu benar adanya. Oksigen harganya lumayan mahal gaes, apalagi kita setiap hari bernafas. Gak bisa dibayangin berapa tabung oksigen yg harus kita punya. Dan kalimat ini selalu benar, nikmat Tuhan manakah yg kau dustakan ?

Jika kita terus mengeluh yg ada kita malah jadi lebih sakit, bahkan mau berteriak kalo itu sakit juga tidak menimbulkan kesembuhan. Apa dengan berteriak sekeras kerasnya dan semua orang tau kalo itu sakit banget membuat kita merasa perlu dikasihani bahwa kita ini lemah dan tidak berdaya ? Hal ini saya jumpai waktu saya opname kemo yg ke 4, ada pasien kanker prostat yg teriak teriak mengeluh kesakitan dan hampir tiap malam menjerit, kemudian dia mendengkur amat keras yg membuat saya tidak bisa beristirahat. Beliau dulu adalah mantan kepala sekolah yg gagah. Dan dengan sakit kita ditunjukkan alangkah tidak berdayanya manusia di kala sakit. Yang kita yakini sebenernya memang kodratnya kita ini sebagai manusia makhluk yg lemah dan tidak berdaya. Sudah diam saja dan perbanyak istigfar. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.

Banyak sekali hikmah yg bisa dipetik, sampe saya harus punya oksigen sendiri di rumah. Tabung gas ukuran sedang jadi saksi dan penolong dikala sesak nafas. Manusia itu bener bener tidak berdaya di kala sakit. Mau badannya besar, pernah mendaki gunung, menyeberangi sungai, berenang di lautan, berprestasi baik di bidang akademik maupun karir, jika semua itu diambil subhanallah. Apa lagi yg bisa dan mau disombongkan ? Bener bener sampe gak bisa nafas. Rasanya kalo jiwa ini diambil pahala apa yg bisa dihisap. Kebaikan apa yg bisa jadi penolong. Amalan amalan apa yg membantu untuk meringankan pertanyaan pertanyaan alam kubur yg selalu diterangkan guru agama saat sekolah. Gak kebayang apapun yg ada aku cuma mikir hari ini hari jumat bukan ya. Kalo misalnya hari ini hari jumat alhamdulillah, kalo bukan ya astagfirullah. Pikiran yg kedua yg muncul adalah aku udah shalat belum ya. Waktu itu kejadian jam 2 pagi. Langsung tanpa pikir panjang di tengah sesak nafas yg melanda yg keinget adalah shalat isya. Langsung bayangin shalat isya sambil salam. Terbesit dalam lamunan ya Allah mohon ampun, mohon ampun sambil memejamkan mata. Teringat dalam kajian Islam, Rasulullah saw yg dijamin masuk surga aja setiap harinya mohon ampun, mengucap istigfar 100x. Aku yg gak dijamin aja, ah sudahlah. Gak tau berapa kali. Yg jelas aku jadi lebih tenang, nafasku kembali normal. Malam itu menjadi malam yg panjang. Ibuk dan adek sudah bersiaga di tempat tidurku. Yg ada mereka keras keras membaca doa memegang kaki dan tanganku. Takut kalo aku sampe tidak sadarkan diri. Bibir ini yg ada hanya mohon ampun dan mohon ampun.

Waktu pun terus bergulir jam 3 pagi kemudian jam 4 sampai akhirnya adzan subuh berkumandang hati ini mengucap syukur masih diberi kesempatan untuk kembali menemui pagi. Biasanya kalo sehat, aktivitas bangun pagi menjadi hal yg biasa. Bangun, badan terasa Segar, atau masih pegel pegel, mager terus tidur lagi. Bagi orang sakit bertemu pagi adalah bertemunya harapan hidup. Masih diberikan kesempatan di dunia untuk menemui matahari pagi.

Dibalik sakit yg diderita ternyata Allah berikan nikmat yg luar biasa. Nikmat itu berupa ( Bersambung…. )

Glivec Generik

Part-1

Bener-bener ini saya sudah lama sekali tidak posting artikel terkait GIST dan obat nya : Glivec. Agak sedih juga melihat blog saya yang sekarang sepi aktivitas. Banyak pertanyaan yang lama baru saya jawab…

Maaf ya para pembaca, sahabat dan saudara sekalian, tidak lain karena kesibukan yang belum memungkinkan saya sering update blog ini.

Kali ini saya merasa sangat perlu untuk update informasi lagi. Mengapa? Karena ada sesuatu yang menurut saya cukup penting untuk disampaikan: Glivec sudah ada Generik nya. Pertanyaan selanjutnya: “bukankah dari 2003 sudah ada Veenat produksi Natco, India yang diklaim sebagai generik nya Glivec?”. Hebatnya Veenat : tentu saja harganya yang sangat murah. Kalau Glivec dihargai USD 2.666 per pasien/bulan maka Veenat dihargai USD 177 per pasien/bulan. Sangat-sangat murah…

Hanya saja secara resmi hak patent Glivec baru berakhir pada Desember 2015. Sebelum itu, produk serupa tidak dibenarkan untuk diedarkan berdasarkan hukum hak paten. Khusus di India, sistem hukum mereka memperbolehkan adanya produk generik Glivec. Hal ini juga menjadi kasus yang menarik di dunia hukum/legal.

Setelah berakhirnya hak patent Glivec pada Desember 2015, FDA (BPOM nya Amerika Serikat) telah memberikan persetujuan untuk produk generik Glivec yang diproduksi oleh Sun Pharma, India. Penjualan obat tersebut dimulai pada Februari 2016 dan Sun Pharma diberi hak eksklusif penjualan obat generik Glivec di Amerika selama 6 bulan.

Saat ijin obat generik diberikan, publik mengharapkan harganya akan jauh lebih murah dari Glivec. Bahkan Kal Sundaram, CEO Sun Pharmaceuticals, yang berkedudukan di Mumbai, India, menyatakan bahwa imatinib (versi generik Glivec), diharapkan lebih murah 30% dari Glivec.

Namun apa yang terjadi? Selama masa eksklusif dari Februari sampai Agustus 2016, produk generik imatinib harganya hampir sama dengan Glivec. Penurunan harga yang diharapkan sekitar 30% hanya terjadi sekitar 10% saja.

Setelah masa eksklusivitas berakhir, pada bulan Agustus 2016 ini, ada dua produk generik lagi yang disetujui, diproduksi oleh Teva Pharmaceutical Industries dan Apotex Corporation. Dengan adanya lebih banyak produk generik diharapkan harga Glivec bisa turun secara signifikan.  Harapannya lagi: obat yang lebih murah tersebut tidak hanya dipasarkan di Amerika tetapi juga di negara lain termasuk Indonesia tercinta :).

Terapi jantung

 

Salam sehat,

kali ini saya akan posting terkait “jantung”…

tentunya banyak di antara kita, keluarga atau teman dan kenalan yang pernah mengalami keluhan penyempitan pembuluh darah jantung.  saya tidak akan mengulas apa itu penyempitan pembuluh darah jantung maupun penyebabnya tetapi saya akan berbagi pengalaman saudara saya yang telah berhasil menggunakan obat tradisional untuk mengobati penyempitan pembuluh darah jantungnya.

seorang paman saya, pada bulan Februari 2013, mengalami serangan jantung, bahkan sempat black-out. Setelah menjalani perawatan darurat di RSCM, disarankan oleh tim dokter agar supaya dipasang ring/stent di 3 tempat.  Beliau diberi waktu sekitar 3 bulan untuk recovery dan memperkuat kondisi fisiknya sebelum dilakukan pemasangan ring.

beliau memang pernah menjalani operasi jantung by-pass saat bertugas di Jerman dahulu.

selama menunggu dan saat recovery tersebut, beliau menjalani perawatan dengan jamur hitam putih sampai sempat selama 21 hari.

pada suatu hari Rabu, awal bulan Mei 2013, paman saya memberitahukan sudah waktunya untuk pasang stent di RS Harapan Kita pada hari Jum’at selang sehari berikutnya, dan sempat berpamitan serta meminta maaf. Pada hari Jum’at siang, beliau mengirim berita: “berita gembira, dari kamar operasi RS Harapan Kita, menurut tim dokter tidak terdapat penyumbatan yang perlu dipasang stent, sudah larut”.  Jadi beliau keluar lagi dari kamar operasi dan tidak jadi dipasang ring/stent.

informasi mengenai khasiat “jamu” tersebut juga saya dapatkan dari tante saya yang sudah berumur di atas 70 tahun.  beliau cerita kalau di pasar (tradisional) kan gedung PD Pasar bertingkat, jadi kalau mau beli barang tertentu harus naik tangga.  karena sudah usia tentunya “ngos-ngosan” atau ter-engah2 kalau harus naik tangga.  setelah minum ramuan tersebut beliau bisa naik tangga tanpa “ngos-ngosan”

Dimana memperoleh ramuannya?

Tante saya belanja bahan2nya di kios obat cina, di dalam pasar tradisional seperti Pasar Tomang Barat yang kebetulan dekat dengan rumah beliau. Berikut ini adalah bahan2nya untuk resep O PEK BOK NIE:

 

Jamur hitam putih 45 gram

Ang Cho 10 biji

Irisan Jahe  8 iris (tebal 2mm)

Daging sapi (has dalam)/Dada ayam:   60 gram

Air  8 gelas

Bahan dicuci bersih dan digodok dengan api kecil (lebih baik dengan slow cooker) dan menggunakan panci dari tanah liat (TIDAK BOLEH PAKAI PANCI LOGAM)!!! Hingga tersisa 2 gelas. Bahan-bahannya dibuang hanya diambil airnya.

Cara minum:  Pagi bangun tidur dalam keadaan perut kosong, minum 1 gelas. Malam sebelum tidur minum 1 gelas lagi.

Jumlah hari: Minum setiap hari selama 24 hari (24 set)

Setelah minum selama 24 hari (24 set), dapat diulang setiap 2 bulan sekali 12 set untuk maintenance.

Demikian informasi tentang terapi O Pek Bok Nie, semoga bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Wassalam wr wb

Bawang Putih: Efek Samping

Satu bulan yang lalu, 1 April 2015, saya mendapat tambahan ilmu…

Saya baru tahu kalau ternyata makan bawang putih bisa membawa efek samping yang serius, salah satunya adalah Anemia, tepatnya Hemolytic Anemia.

Garlic

Continue reading

Terapi Cryosurgery

Banyak sudah kita dengan terapi yang dilakukan untuk menangani penyakit kanker, mulai dari yang standar seperti pembedahan, radiotherapy dan kemoterapi, sampai dengan yang canggih seperti target therapy dan cryosurgery.  Di samping itu tentunya kita juga pernah mendengar terapi yang non-konvensional (non-medis) seperti terapi herbal menggunakan berbagai daun2an, buah2an ataupun biji2an dan juga terapi “jenis” lain seperti menggunakan aura, meditasi atau “jaket anti kanker”.

Kali ini saya akan memposting artikel terkait cryosurgery atau teknik pembekuan.  Artikel ini sebenarnya pernah di tulis pada koran Kompas edisi Sabtu, 6 September 2014, namun saya unggah kembali di blog ini agar para pembaca yang tidak sempat membaca koran tersebut dapat membacanya di sini… 

Dikutip dari Kompas :

“Menjinakkan Keganasan Kanker”

KOMPAS.com – Pengembangan teknologi terbaik untuk mengatasi kanker terus dilakukan. Beragam metode terapi dikembangkan untuk membunuh sel-sel kanker, termasuk menerapkan teknik pembekuan atau cryosurgery. Kemajuan beragam terapi itu menumbuhkan harapan bagi para penderita untuk pulih.

Slide-No-04

Continue reading

Diet Lambung

Setelah saya mengalami pendarahan di lambung (lihat artikel tentang pendarahan lambung) dan luka di lambung diperbaiki (proses ligasi lambung), pada saat pemulihan saya mendapat pola makan yang disebut Diet Lambung.

Lambung

 

Continue reading

Pendarahan Lambung – (3) Pemulihan

(sebelumnya…)

Pasca transfusi darah, sebagaimana yang sudah sering saya alami, badan saya mengalami penyesuaian dengan darah baru. Malam Kamis itu saya merasa kedinginan yang sangat sampai badan menggigil. Saya minta tolong perawat memberikan selimut tambahan sampai rangkap 3 !!!. Pagi harinya rasa menggigil sudah hilang.

Shiver

Continue reading