Penyebab Hipertensi : sistem saraf

Menjawab pertanyaan dari posting sebelumnya, kenapa saya menderita hipertensi? padahal makanan sudah banyak sayur2an dan buah2an dan sebagian parameter2 klinis serta hasil tes darah bagus2 semuanya…

Good

Menurut dokter ini karena kemampuan tubuh saya yang kurang dapat menahan laju peningkatan tekanan darah.

Ibaratnya mobil, sistem rem tubuh saya kurang berfungsi sempurna. Seharusnya, jika pedal gas diinjak maka kecepatan mobil akan meningkat dan jika pedal rem diinjak maka kecepatan akan berkurang. Pada tubuh saya, sistem remnya kurang “pakem”, jadi walau sudah direm tetap saja kecepatannya tidak langsung berkurang tetapi berkurangnya perlahan2 (agak telat).

images

Pada tubuh manusia, pedal gas itu analoginya adalah sistem saraf simpatis dan pedal rem itu sistem saraf parasimpatis. Sistem saraf simpatis ibarat gas, apabila ditekan, dipicu antara lain akan mempercepat denyut jantung, memperkecil diameter pembuluh arteri (sehingga meningkatkan tekanan darah). Sistem saraf ini terpicu saat kondisi stress yang membutuhkan tubuh siaga terhadap berbagai ancaman (maupun “kekhawatiran” tanpa adanya ancaman yang nyata)…

Sebaliknya sistem saraf parasimpatis ibarat rem, apabila ditekan atau dipicu, antara lain akan memperlambat denyut jantung dan memperbesar diameter pembuluh arteri (sehingga menurunkan tekanan darah). Idealnya sistem saraf ini akan bekerja untuk menyeimbangkan tubuh sehingga kondisi stress tidak sampai membahayakan tubuh. Ibaratnya mobil, kecepatannya tidak akan melampaui batas yang membahayakan. Nah, pada tubuh manusia, walaupun tingkat stress memicu denyut jantung dan meningkatkan tekanan darah, saraf parasimpatis akan menjaga agar denyut jantung dan tekanan darah tetap berada dalam kondisi aman.

Menurut dokter, sistem rem tubuh saya kurang sempurna, sehingga jika saya mengalami stress atau cemas, maka denyut jantung dan tekanan darah akan meningkat tetapi saraf parasimpatis saya tidak bisa menghentikan laju peningkatan tersebut. Akibatnya tekanan darah melonjak tidak terkendali dan denyut jantung meningkat. Pada akhirnya denyut jantung yang meningkat dapat berakibat menjadi tidak beraturan (aritimia)…

Pertanyaan selanjutnya, saya tanya kepada dokter ahli jantung dan pembuluh darah yang merawat saya di RS Siloam Surabaya, dr.Bambang Herwanto SpJP, kok bisa begitu dok? apa yang menyebabkan sistem rem tubuh saya tidak berfungsi sempurna…

Menurut beliau, untuk memperbaiki sistem saraf parasimpatis antara lain dapat dilakukan dengan olahraga.  Yah, saya memang sudah lama tidak berolahraga.  Sebelumnya saya cukup aktif, mulai sepeda MTB (agak ekstrim), berenang dan jalan kaki… Tapi sejak kecelakaan sepeda di awal 2013, saya berhenti total berolahraga… tampaknya inilah yang menyebabkan sistem tubuh saya menjadi kurang sempurna.  Akibatnya, setengah tahun kemudian saya menderita serangan hipertensi…

images-3

Dokter saya menyarankan untuk berolahraga secara teratur, mulai saja dari yang ringan, seperti jalan2 di mal (wah ini saya suka…:) )

 

6 thoughts on “Penyebab Hipertensi : sistem saraf

  1. yudi

    Untuk obat hipertensi pak anto minum obat apa? Saya baru dideteksi kena hipertensi dan baru seminggu ini minum obat irvel. Efek sampingnya sering kepala pusing dan kelelahan. Tapi obat ini yg menurut saya cocok krn sebelumbya saya minum hct, bisopolol dan diovan malah sesak nafas dan vertigo gak karuan. Ternyata saya browsing memang semua obat hipertensi ada efek sampingnya, cuma kita pilih yg paling sedikit resikonya. Menurut pengalaman pak anto yg pernah alami, efek samping apa yg dirasakan ketika minum obat hipertensi?

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Saya pernah diberi beberapa obat, tapi efeknya macam2, ada yang dada berdebar2, vertigo, pusing, dll. Pengalaman menunjukkan saya tidak cocok obat Cordarone, Cipras, Tricedon, Concor… saat ini yang paling cocok dan saya tidak merasa adanya efek samping adalah Micardis 40mg. Obat ini kalau saya baca di internet sebenarnya untuk orang yang sudah berumur, seperti saya🙂🙂🙂 termasuk obat yang relatif ringan.
      Awalnya saya mendapat dosis 80mg tetapi karena sudah membaik dan cukup stabil maka dosisnya dikurangi menjadi 40mg.

      Reply
  2. yudi

    Untuk kontrol tekanan darah saya beli tensi digital omron. Menurut pak anto untuk alat tensi digital ini apakah akurat? Atau setidaknya mendekati ukuran tensi raksa.
    Kita kesampingkan untuk kekuatan baterei dan kalibrasi tensi karena tensi digital masih baru

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      saya juga membeli pengukur tekanan darah digital, namun karena saya memiliki aritmia (kelainan detak jantung yang tidak ritmis/detak tidak teratur) maka alat ukur tersebut bagi saya tidak bisa digunakan, demikian menurut dokter…

      tetapi untuk orang normal tampaknya bisa digunakan walaupun akurasinya tidak seperti alat ukur tekanan darah yang manual

      Reply
  3. yudi

    Malem pak anto
    Saya juga lagi menjalani terapi hipertensi satu bulan ini, Dan diberi irvell 150 mg. Sempat stress juga sich ngendalikan hipertensi ini. Kerusakan organ akibat hipertensi tidak ada baik ginjal atau jantung semua normal (cek up dokter jantung). Kmrn saya sempat bingung untuk tensi ini, karena kok berubah ubah dalam seminggu. Dengan data berikut 120/80, 130/80, hari kamis siang 140/80, eh barusan saya cek lagi (sabtu malem) 150/100 semua saya lakukan di rumah sakit. Menurut pengalaman pak anto gmana ya pak? Apa yg nyebabkan berubah terus? Apakah memang jantung saya diciptakan seperti ini? Karena logika saya, klo saya baru menyadari kena darah tinggi sedangkan kondisi jantung tidak bengkak berarti selama ini organ organ tubuh saya terbiasa dng darah tinggi ini.

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Tekanan darah dan denyut nadi/jantung banyak dipengaruhi oleh emosi (internal) dan juga kondisi lingkungan (eksternal). Pengalaman saya menunjukkan, jangankan dalam seminggu atau sehari, dalam beberapa menit pun tekanan darah bisa berubah dengan drastis. Emosi, termasuk rasa khawatir akan bisa cepat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Sebaliknya, mendekat kepada Pencipta kita (misal dzikir, meditasi, berdoa, dll. dengan cara yang tepat/khusyuk…) atau mendapatkan kondisi lingkungan yang baik akan dapat mestabilkan denyut nadi dan tekanan darah.
      Saya sempat mengalami tekanan darah yang tidak stabil, kalau sedang cemas bisa langsung naik tensinya. Apalagi kalau membaca pengukur tensi (Omron) dan alat pengukur denyut nadi (saya pakai Timex) bisa2 malah tambah khawatir. Sampai2 isteri saya akhirnya melarang saya menggunakan kedua alat tersebut, beralih kepada upaya menenangkan diri (ibadah, dll). Hasilnya ? perasaan menjadi tenang, kondisi stabil dan saya bisa lebih menjaga emosi yang pada akhirnya menstabilkan denyut nadi/tekaran darah.
      Selain itu, dokter jantung saya juga menyarankan hal yang serupa : jangan bertindak terburu2, tenang, olahraga ringan yang teratur…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s