Pendarahan Lambung – (3) Pemulihan

(sebelumnya…)

Pasca transfusi darah, sebagaimana yang sudah sering saya alami, badan saya mengalami penyesuaian dengan darah baru. Malam Kamis itu saya merasa kedinginan yang sangat sampai badan menggigil. Saya minta tolong perawat memberikan selimut tambahan sampai rangkap 3 !!!. Pagi harinya rasa menggigil sudah hilang.

Shiver

Hari ketiga, Kamis 24 Juli 2014, hasil tes darah pagi2, Hb saya meningkat lagi menjadi 11,5. Alhamdulillah. Walaupun demikian, masih ada juga ujian, tangan saya menjadi perih dan bengkak karena infus yang pekat (makanan : asam amino, dilanjutkan dengan cairan makanan plus lipid). Hari itu selang NGT dicopot. Berkuranglah 1 selang yang menempel di tubuh saya, wuih… rasanya ngilu waktu mencopot selang NGT ditarik melalui hidung…

Selanjutnya, yang diakukan di ruang ICU adalah pemantauan kondisi. Apabila sudah stabil dan baik maka saya boleh pindah ke kamar rawat biasa…

Hati saya rasanya lega begitu tahu proses ligasi berhasil dan transfusi berhasil dilakukan sehingga Hb sudah meningkat.

Malam itu saya sudah boleh minum susu bergizi tinggi…

Rupanya ujian belum selesai. Malam harinya badan saya demam, suhu tubuh tercatat 38,2 derajat Celcius. Untuk menurunkannya perawat memberi Panadol melalui jarum infus.

Malam itu saya tidur cukup nyenyak.

Alhamdulillah pagi harinya demam sudah turun… Selang transfusi akhirnya dicopot karena saya sudah tidak kuat lagi dengan rasa perih pada pembuluh darah (lokasi jarum transfusi dengan dengan tulang jempol tangan kiri) dan lokasi disekitarnya sudah mulai merah, bengkak.

Hari keempat, Jumat, saya sudah boleh sarapan bubur yang sangat cair.  Bentuknya mirip air tajin yang agak manis…   Siang harinya, saya sudah boleh makan nasi pakai semur ayam dan sayur labu.  Waduh senangnya… akan tetapi, begitu makanan datang, yang muncul adalah cairan dalam piring dan mangkok, he he he… jadi bubur nasi nya diblender, semur daging diblender, begitu juga sayur labu-nya🙂  walaupun begitu, hebatnya rumah sakit ini, rasanya tetap enak.  Jadi benar2 seperti/seolah2 makan semur tetapi sudah dikunyah sangat halus wkwkwk…

Siang itu saya sudah boleh pindah masuk ke kamar rawat biasa.  Saya ditempatkan di kamar 720.  Rasanya bagaikan langit dan bumi.

Di ruang ICU suasananya cukup ramai karena banyak kejadian pasien yang gawat dan tindakan2 medis yang dilakukan di ruangan ICU.  Di tempat tidur saya selalu dapat mendengar suara peralatan monitor kondisi tubuh (EKG, tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dll). Kita juga bisa mendengar ada pasien yang berteriak kesakitan, pasien yang mengalami kondisi kritis dan terus menurun, bahkan ada pasien yang telah mendahului pasien lainnya karena kondisinya yang tidak dapat tertolong lagi, Di ruang ICU setiap pasien dijaga oleh seorang perawat.  Hebatnya lagi, di ujung tempat tidur pasien terdapat kursi dan meja tempat perawat mengawasi pasien dan mencatat perkembangan kondisinya.  Pasien merasa benar2 diperhatikan oleh perawat. Ada beberapa perawat yang baik2 menjaga saya selama di ruang ICU yaitu Prisma, Isma, Yani, Soni dan Kamal…

Sementara itu, di ruang rawat biasa suasana-nya benar2 sepi, hening dan tenang.  dan lagi, di ruangan saya ada TV-nya. he he he…  Menurut perawat di sana, biasanya pasien yang datang dari ICU akan mengalami autis ketika berada di ruangan di lantai 7 itu… bingung juga saya kok autis.  Iya, karena jadi sibuk nonton TV, tidak peduli hal lainnya, jawab perawatnya🙂🙂

Hal yang menarik lainnya, di lantai 7 dan 8 RS Medistra saat itu banyak pasien, beberapa berusia lanjut. Rupanya setiap hari Raya (Lebaran dan Natal) banyak keluarga yang menitipkan orangtuanya yang sudah sepuh dan mengalami kondisi memerlukan perhatian khusus (golongan 4 – hanya bisa berbaring, bahkan makanpun melalui NGT), karena perawat di rumahnya pulang kampung dan sebagian dari mereka anak2nya berliburan ke luar negeri (?)🙂 .

Malam harinya saya sudah boleh makan lunak, yaitu kentang yang ditumbuk halus dengan lauk daging cincang.

Hari kelima, Sabtu, saya seharian sudah makan lunak.

Berdasarkan asil pemantauan dokter menyimpulkan saya boleh pulang pada hari Minggu, alhamdulillah…

17 thoughts on “Pendarahan Lambung – (3) Pemulihan

  1. felicia Hardojo

    Terkejut sekali ketika membaca tulisan bapak mengenai “Perdarahan Lambung”. Saya baru menyadari bahwa bapak membalas pertanyaan saya mengenai Tumor Pancreas selagi dirawat di rumah sakit. Terima kasih pak, disaat bapak sendiri sakit tapi masih memberi penghiburan kepada orang lain. Semoga cepat sembuh ya pak, dan Tuhan selalu memberkati.

    Salam

    Reply
  2. anto sugianto

    pak,kira kira habis berapa biaya oprasi tumor lambung,ibu saya baru di diagnosa ada tumor lambung sepanjang 6cm,lebih ama oprasi atau pake obat herbal?

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Biaya tergantung rumah sakit dan skema pembiayaan. Kalau menggunakan asuransi (seperti saya) biayanya jadi murah sekali. Begitu pula dengan skema BPJS/Askes.
      Pengalaman saya obat herbal tidak bisa menghilangkan tumor sedangkan operasi bisa, walaupun ada juga orang yang cocok dengan obat herbal.

      Reply
  3. anto sugianto

    saya dilema bgt pak,antara obat herbal atau oprasi,saya jg terbentur keuangan,kemarin pas di rawat,cba pake bpjs tapi rs menolak,dgn alasan kamar penuh,setelah oprasi tumor lambung,apa ada pengobatan lain atau obat yg wajib di konsumsi?kemungkinan bsa berkembang lg ngga tumor nya?

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Lokasi ada dimana? beberapa bulan lalu ibu saya juga operasi di RSUD di Jakarta Timur, menggunakan ASKES (belum dikonversi BPJS), sempat menunda operasi karena kamar penuh, tapi kita konsultasi dengan dokter yang merawatnya dan dijadwalkan untuk operasi setelah ada kamar yang tersedia.

      Paska operasi sempat tidak dapat kamar sesuai kelas-nya tapi hanya menunggu 1 hari, setelah itu bisa masuk rawat inap di kamar sesuai dengan kelas-nya. Karena menggunakan ASKES pembayarannya sangat murah.

      Salah satu kiatnya, kita perlu komunikasi yang baik dengan dokter yang merawat kita.

      Kalau hanya tumor biasa, bukan kanker, biasanya setelah operasi tidak perlu diberi obat, cukup asupan makanan dan minuman yang sehat berimbang, banyak sayuran dan buah. Tetapi kalau tumornya sudah menjadi kanker maka setelah operasi perlu diterapi dengan obat kemoterapi atau target terapi dll sesuai dengan saran dokter.

      Kemungkingan tumor berkembang sangat bergantung kepada jenisnya, kalau bukan kanker diperkirakan tidak akan tumbuh lagi

      Reply
  4. anto sugianto

    lokasi saya di Majalengka, tapi ibu saya ketakutan bgt pak klu di oprasi, pengalaman pak pur pake obat herbal apa pak?pak pur pernah dgr jeng ana atau shinse yg di glodog?
    apa saran yg paling aman tetep oprasi aja ya pak?

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Memang operas itu menakutkan, pertama karena ada bagian tubuh kita yang dibedah/dipotong dan kedua risiko yang bisa terjadi paska operasi termasuk risiko jiwa. Saya sendiri dulu sempat tidak mau dioperasi dan menunggu beberapa tahun sampai akhirnya terpaksa harus dioperasi, karena kalau tidak bisa membahayakan jiwa, itupun dengan risiko 50% keberhasilan operasi.

      Obat herbal saya coba macam2, mulai dari benalu teh, buah mengkudu, buah merah dari Papua, berbagai jamu2an mulai dari sinshe yang di Glodok dan dimana2, sampai resep tradisional, kunyit putih, dll. Tapi untuk saya tidak ada yang dapat menghilangkan tumornya sampai harus dioperasi.

      Pilihan operasi atau herbal itu dikembalikan kepada masing-masing pasien dan keluarganya. Intinya bahwa yang menyembuhkan bukan dokter ataupun obat atau sinshe tetapi Yang Maha Kuasa lah yang menyembuhkan, selain itu hanya perantara saja dan kita wajib berikhtiar serta berdoa.

      Reply
  5. anto sugianto

    ok pak pur, thanks info nya,klu RS di jakarta,yg trima Bpjs and bsa oprasi Tumor lambung, selain RSCM,Dharmais,kira kira RS mana lagi pak?

    Reply
  6. anto sugianto

    pak pur, barusan ibu saya di rujuk ke RS mowardi solo, tapi kenapa ya dokternya menyarankan untuk di kemotrapi, lihat pengalaman pak pur kan langsung di oprasi, saya ngga nanya alasan nya suruh di kemotrapi,karena yg nganter saudara saya.bukanya pengobatan tumor itu paling terbaik di oprasi?

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Kalau menurut Dokter saya obat tumor yang terbaik memang operasi. Kalau dokter di sana memutuskan kemoterapi berarti sudah didiagnosa Kanker. Kalau mau lebih puas bisa juga minta second opinion dari dokter lain.

      Reply
  7. Neti Harijanto

    Mat siang pa Anto, saya mau menanyakan apakah sampe sekarang bapak masih mengkonsumsi glivec? Ada seorang sahabat yg terus mengkonsumsi obat tsb pasca operasi Gist dan kulitnya menjadi sangat putih sepwrti kertas putih. Apa dampaknya untuk jangka panjang tidak berbahaya? Terima kasih sebelumnya.

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Saya sudah tidak konsumsi Glivec lagi sejak awal 2011 setelah terapi selama 8 bulan. Memang saya juga mengalami hal yang sama, seperti teman2 lainnya, kulit menjadi putih🙂 rambut yang ubanan mulai jadi hitam lagi. Tapi di sisi lain ada efek yang bagi saya kurang baik yaitu Hb (hemoglobin) darah menjadi rendah di bawah normal sehinga digolongkan Anemia (kurang darah). Untuk mengatasinya saya diberi penambah darah seperti tablet Maltofer disamping saya sendiri juga suka minum jus buah bit. Kalau anemia nya parah maka harus ditransfusi.

      Dalam jangka panjang anemia ini dapat merugikan. Obat2an penambah darah memiliki kandungan zat besi yang tinggi sehingga dapat mengganggu fungsi ginjal. Selain itu, apabila tidak ditangani, anemia dapat juga mengakibatkan kerja jantung yang lebih berat. Bahkan dalam suatu studi didapatkan bahwa 43% orang yang mengalami serangan jantung menderita anemia (www.anemia.org).

      Terakhir memang saya mengalami aritmia jantung (tapi sekarang sudah jauh membaik) dan sedikit penebalan dinding jantung.

      Walaupun demikian, apabila ditangani dengan baik maka konsumsi Glivec dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

      Reply
    1. antopurwanto Post author

      Saya masuk ICU hari Selasa, dilakukan tindakan gastroscopy pada hari Rabu sore, kemudian boleh pulang dari RS hari MInggu. Jadi saya bisa pulang 4 hari setelah gastroscopy…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s