Stivarga – Regorafenib

1st line therapy : Glivec
2nd line therapy : Sutent
3rd line therapy : Stivarga

Untuk terapi GIST umumnya kita mengenal Glivec (produksi Novartis) yang sudah disetujui oleh FDA US sejak 2001 (untuk CML) dan 2002 (untuk GIST).  Bagi pasien GIST, GIivec dikenal sebagai first line therapy untuk pasien dewasa dengan Kit (CD117)-positive yang tidak dapat dioperasi dan/atau ada penyebaran.  Selain itu juga sebagai Adjuvant treatment setelah dilakukan operasi GIST dengan KIT (CD 117) positif, bagi pasien dewasa (seperti yang saya alami) yang memiliki risiko kekambuhan. Pasien yang memiliki risiko rendah tidak perlu mendapat  adjuvant treatment (berarti saya risiko tinggi karena ukuran GIST yang signifikan).

Dalam beberapa kasus bisa terjadi pasien GIST tidak cocok dengan Glivec, seperti tidak adanya perbaikan yang dialami bahkan GIST tetap berkembang membesar atau menyebar, untuk ini biasanya diberikan second line therapy menggunakan obat Sutent (produksi Pfizer).  Dalam blog ini saya belum banyak membahas mengenai Sutent.  Tidak banyak pula pasien GIST di Indonesia yang menggunakan Sutent.  Salah satunya adalah mba Riri (alm.) yang menurut beliau hanya ada sekitar 14 orang di Indonesia yang diketahui menggunakan Sutent.  Selain untuk terapi bagi GIST, Sutent juga diterapkan untuk terapi kanker ginjal tingkat lanjut (advanced renal cell carcinoma atau RCC).  Di samping itu, juga bisa diterapkan untuk penanganan kanker pankreas (pancreatic neuroendocrine tumors atau pancreatic NET), yang telah berkembang dan tidak bisa ditangani melalui pembedahan.

Belum lama ini, tepatnya pada February 25, 2013, FDA telah menyetujui Regorafenib atau dengan nama dagang Stivarga ® (diproduksi oleh Bayer) sebagai terapi untuk GIST yang tidak dapat ditangani melalu pembedahan dan tidak memiliki respon terhadap imatinib (Gleevec) dan sunitinib (Sutent). Stivarga juga dapat digunakan bagi pasien kanker usus besar yang sudah menyebar atau metastatic colorectal cancer (mCRC). Persetujuan FDA untuk terapi mCRC menggunakan Stivarga diberikan pada September 27, 2012.

Sama seperti dengan obat2 GIST lainnya, Stivarga memiliki efek samping, yang umum terjadi adalah tekanan darah tinggi, permasalahan pada kulit kaki dan tangan serta diare.  Selain itu, ada juga efek yang serius tapi hanya terjadi pada sebagian kecil pasien (tidak lebih dari 1%) dimana liver/organ hati mengalami kerusakan, terjadi pendarahan, kulit yang mengelupas dan luka, serangan jantung, serta perforasi di usus halus.

Bagaimana dengan di Indonesia ? saya belum pernah mendengar ada pasien GIST di Indonesia yang mendapat regorafenib/Stivarga, tapi saya pernah komunikasi dengan keluarga pasien GIST yang mendapat rekomendasi untuk terapi dengan regorafenib/Stivarga ketika beliau berobat di Singapore.  Belum ada informasi lebih lanjut mengenai perkembangan terapinya, mengingat obat ini relatif baru disetujui untuk umum, semoga beliau kondisinya menjadi lebih baik, cepat pulih.

13 thoughts on “Stivarga – Regorafenib

  1. Firman

    Mas Anto. Saya penderita GIST juga yang sudah metastasis ke Liver. Sudah 3 bulan terapi Glivec. Saya selalu menanti tulisan mas Anto. Kayaknya harus lebih sering nulis di blog mas🙂

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Salam sehat…
      Memang sekarang saya agak jarang nulisnya😦
      Maklum sudah ada beberapa kesibukan, tapi saya niatkan untuk mulai rajin nulis lagi.
      Terima kasih ya🙂

      Reply
      1. Firman

        Ibu Linda, saya sampai sekarang masih kosumsi GLIVEC untuk adjuvant therapy pasca operasi. Saya barusan posting juga di blog ini, “Terapi alternatif untuk GIST”. Kalau ingin ngobrol dengan saya, silahkan email saya di firman_syahbudi@yahoo.com. Atau ibu boleh add pin BB saya 73F468D8.
        Ibu baca blog mas Anto ini dari awal, terus terang medication yang saya lakukan merujuk pada tulisan mas Anto Purwanto. Terimakasih mas Anto atas segala pencerahannya. Tulisan mas Anto pasti sangat bermanfaat untuk teman2 GIST’er dan penderita Kanker lainnya. InsyaAllah mendapatkan pahala dan balasan dari Allah SWT. Aamiin YRA.

        Reply
  2. Indra

    Malam pak Anto,
    Ibu saya terkena penyakit kanker GIST, metastatis ke paru-paru. Hal yang saya ingin tanyakan, bagaimana kita mengetahui pasien cocok dengan Gleevec atau adanya efek yang baik dari Gleevec itu sendiri terhadap penyakitnya ?🙂

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Mas Indra, meneruskan informasi dari p.Ahmad Utomo (peneliti di Lab.Kalgen):

      Untuk GIST ada terapi target yang cukup umum yaitu imatinib mesylate (produk Novartis : Glivec) dan sunitinib (produk Pfizer : Sutent). namun bagaimana memilihnya?

      Data penelitian menunjukkan bahwa pasien GIST yang termutasi pada ekson 11 gen c-KIT dia memiliki respon yang baik ketika diterapi dengan imatinib (gleevec) sebanyak 400 mg. tapi kalau mutasinya di ekson 9, harus ditambahkan dosisnya hingga 800 mg. alternatifnya, kalau mutasinya di ekson 9 dari gen GIST dia juga bisa diberikan sunitinib. jadi ini yang dimaksud penting nya dilakukan pemeriksaan gen sebelum terapi menggunakan ‘targeted therapy’.

      Sumber sampelnya juga harus dari jaringan kankernya bukan dari darah, karena mutasinya terjadi spesifik pada kanker dan bukan pada jaringan normal. spesifisits mutasi inilah yang melahirkan istilah bahwa kanker adalah penyakit genetik

      Reply
      1. antopurwanto Post author

        Tambahan informasi, saya sendiri tidak tahu kena nya di exon nomer berapa, karena memang di Indonesia informasi detil mengenai kesehatan agak jarang. Saya baru mendapat banyak informasi setelah operasi pengangkatan GIST dan juga setelah konsumsi Glivec (mencari informasi sendiri di internet dll.).

        Tampaknya kita perlu diskusi intensif dengan dokternya…
        Alhamdulillah dokter onkologi saya bisa diskusi panjang lebar (Dr.Noorwati S di Dharmais).

        Reply
        1. Indra

          Sebelumnya terima kasih Pak atas penjelasannya. Saat ini ibu saya sudah mendapatkan obat Glivec dengan dosis 400mg/hari. Kebetulan dokter onkologi ibu saya juga adalah Dr. Noorwati di Dharmais. Hal yang saya perlu tanyakan adalah ibu saya setelah minum obat glivec tersebut selang 20-30 menit beliau muntah-muntah, dan merasa lega setelah muntah tersebut. Apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar bagi peminum Glivec ? Apakah hal tersebut perlu dikonsultasikan ke Dr. Noorwati ?

          Terima kasih pak, sebelumnya🙂

          Reply
          1. antopurwanto Post author

            Efek yang terjadi pada tiap2 pasien bisa berbeda2. Untuk itu perlu konsultasi dengan dokternya apalagi kalau sampai muntah.
            Walaupun beberapa pasien mencoba mengatasi rasa mual dengan berbagai cara a.l. minum obat sebelum tidur sehingga mual terjadi pas sedang tidur…dll
            Yang terbaik untuk melihat efek obat adalah diskusi kembali dengan dokternya karena beliau banyak informasi mengenai macam2 efek dan penanganan nya.
            Salam

            Reply
  3. adit

    Dear Mas Anton,

    Regorafenib sudah ada di Indonesia. Sudah beredar sejak tanggal 16 oktober 2014 Coba cek ke medical oncologi yang ada.

    Reply
  4. ARFIANTI

    Slamat Malam Pak Anto…Suami Saya jg mengkonsumsi Stivarga..baru habis 1 botol…reaksi setelah minum obat itu, Suami Saya merasa Sakit dibagian Perut, Suara mengecil n gk selera makan krn merasa kenyang…akhirnya daya tubuhnya melemah…jadi beliau tdk mau lg melanjutkan minum Stivarga itu…krn merasa gk kuat…sebelumnya Suami Saya sdh menjalani KEMO 24X…apa ya yg harus Saya lakukan lagu utk kesembuhannya…Terimakasih sebelumnya

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Selamat malam.

      Memang masing2 pasien reaksinya bisa berbeda terhadap masing2 jenis obat. Efek obat2 kanker memang cukup keras. Salah seorang paman saya pernah juga daya tahan tubuhnya melemah setelah kemo, bahkan setiap selesai kemo masuk ICU. Tapi memang semuanya perlu konsultasi dengan dokternya. Paman saya yang lainnya, karena obat kemonya terlalu keras akhirnya oleh dokter diganti obatnya, alhamdulillah setelah diganti obat kankernya bisa teratasi.

      Tapi memang kalau sedang sakit kadang kita tidak mau makan. Waktu itu saya juga bisa terbantu gizinya dengan bantuan dokter gizi yang memberi resep suplemen/pengganti makanan dan akhirnya daya tahan tubuh saya bisa meningkat kembali.

      Jadi saran saya adalah konsultasi dengan dokter onkologinya, atau kalau ingin mendapat pandangan lain bisa juga mengambil second opinion ke dokter onkologi lainnya.

      Semoga suami bisa lekas pulih kembali.
      Salam sehat.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s