Medical Check-up – MCU

Sewaktu saya masih dalam proses terapi dengan obat Glivec paska operasi, salah satu yang sering ada dalam pikiran saya adalah :

1. Apakah saya bisa “sembuh” ?
2. Sampai kapan saya harus terus minum obat Glivec ?
3. Apabila sudah “sembuh”, berapa lama kondisi yang sudah membaik akan bisa bertahan ?

Pertanyaan No.2 sudah terjawab sejak awal 2011, ketika tim dokter memutuskan untuk menghentikan Glivec.

Pertanyaan No.1 dan No.3 butuh penjelasan khusus🙂

Akhir2 ini saya jadi ingat pertanyaan tersebut, kenapa ? tidak lain karena hasil Medical Check-up atau MCU yang dilakukan di kantor saya…

Sejak dulu, saya belum pernah melaksanakan MCU di kantor. Padahal, untuk pegawai di atas 40 tahun atau pejabat di kantor, setiap tahun ada panggilan MCU. Kali ini saya harus ikut, sekalian ingin tahu kondisi 2,5 tahun paska operasi.

Malam sebelum MCU saya harus puasa, untuk pemeriksaan gula darah sebelum dan sesudah makan. Setelah tes darah pertama (sebelum makan) kita harus makan. Setahu saya biasanya pegawai mendapat kotak makanan, tetapi kali ini ada makanan di ruang makan khusus dalam poliklinik. Makanannya lumayan lah, buat saya lebih dari cukup alias kebanyakan. Lauknya ada timlo, ikan utuh ditumis + bumbu (kayaknya ikan kembung), kerupuk, telor di balado kayaknya dan susu🙂

Habis makan dites EKG (electrocardiogram). Sebagaimana diterangkan di webmd.com, EKG adalah tes untuk melihat :

– Aktivitas biolistrik jantung kita.
– Mencari penyebab nyeri dada.
– Mencari sebab sakit jantung mis. irama jantung tidak teratur.
– Memeriksa bila ada penebalan dinding jantung (hypertrophied).
– Memeriksa obat tertentu yang ada efeknya kepada jantung.
– Memeriksa peralatan seperti pacu jantung.
– Memeriksa kesehatan jantung.

Selama EKG kita akan berbaring di tempat tidur. Kemudian kulit di bagian lengan, kaki dan dada ditempel dengan piringan metal kecil (electrodes/elektroda). Biasanya kulit tersebut akan diberi jel yang tampaknya untuk memudahkan kerja elektroda karena sifat jel yang konduktif (menghantar listrik). Elektroda tersebut disambungkan ke instrumen yang akan mencatat dan mencetak di kerta mengenai aktivitas jantung kita.

Kita akan diminta untuk tidak bergerak di tempat tidur, bernafas secara normal. Sewaktu2 bisa diminta untuk tahan nafas. Sebaiknya kita tidak boleh bicara selama EKG.

Setelah EKG, ada dokter yang melihat hasilnya, memeriksa tekanan darah dan lanjut dengan Treadmill.

Nah, waktu dokter memeriksa tekanan darah, dia kaget, 170/100 tinggi banget !!! katanya. Coba diulang lagi, tetep masih tinggi. Jadinya saya ngga boleh ikut treadmill… Dokter akhirnya memberi obat tekanan darah tinggi Potassium apa gitu… lupa namanya. Rupanya potassium adalah zat yang dapat menurunkan tekanan darah.

Orang2 dulu punya resep menurunkan tekanan darah dengan minum jus timun atau belimbing, rupanya kedua buah tersebut sangat tinggi kandungan potassiumnya🙂

Selesailah sudah proses MCU hari itu… Saya pikir besoknya mesti istirahat ah, karena ada kemungkinan tekanan darah tinggi akibat kecapekan…

Esok lusanya, setelah istirahat sehari, saya penasaran. Saya dateng ke dokter yang lain (jauh lebih senior) di poliklinik. Saya periksa darah… ternyata… normal 120/80. Kata dokter senior ini, kalau cek tekanan darah pasien harus sambil tenang, berbaring, ambil jeda waktu, jangan datang2 langsung diperiksa sambil duduk🙂🙂 Lega deh rasanya…

Beberapa hari kemudian, hasil MCU datang di meja saya. Hasilnya, semua bagus, gula darah bagus, kolesterol (total, HDL, LDL) bagus, asam urat bagus hanya saja trigliserida yang tinggi dan Hb yang rendah. Kalo Hb yang rendah sudah biasa🙂 tapi baru kali ini liat trigliserida tinggi …

Saya penasaran, sebenarnya apa tepatnya trigliserida itu…

Berikut ini salah satu uraian dari deherba.com :

Trigliserida merupakan jenis lemak yang dapat ditemukan dalam darah, merupakan hasil uraian tubuh atas makanan berlemak dan kolesterol yang telah dikonsumsi dan masuk ke tubuh serta bisa dibentuk oleh organ hati.

Setelah mengalami proses di dalam tubuh, trigliserida ini akan diserap usus dan masuk ke dalam plasma darah yang kemudian akan disalurkan ke seluruh jaringan tubuh dalam bentuk klomikron dan VLDL (very low density lipoprotein).

Trigliserida dalam bentuk klomikron berasal dari penyerapan usus setelah konsumsi makanan berlemak. Sebagai VLDL, trigliserida dibentuk oleh hati dengan bantuan insulin dari dalam tubuh.

Trigliserida yang berada di luar hati dan berada dalam jaringan misalnya jaringan pembuluh darah, otot, jaringan lemak akan di-hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase. Sisa hidrolisis ini akan dimetabolisme oleh hati menjadi kolesterol LDL (the bad cholesterol).

Kalori yang didapatkan tubuh dari makanan yang dikonsumsi tidak akan langsung digunakan oleh tubuh melainkan disimpan dalam bentuk trigliserida dalam sel-sel lemak di dalam tubuh yang berfungsi sebagai energi cadangan tubuh.

Asupan makanan yang mengandung kadar lemak jenuh yang tinggi (seperti daging, susu, keju, krim, minyak kelapa, kelapa sawit, minyak sayur) dapat meningkatkan efek trigliserida di dalam tubuh seseorang. Jika kadar trigliserida meningkat, maka kadar kolesterol pun akan dapat meningkat.

Trigliserida yang berlebih dalam tubuh akan disimpan di dalam jaringan kulit sehingga tubuh terlihat gemuk. Seperti halnya kolesterol, kadar trigliserida yang terlalu berlebih dalam tubuh dapat membahayakan kesehatan.

Namun, trigliserida dalam batas normal sebenarnya sangat dibutuhkan tubuh. Asam lemak yang dimilikinya bermanfaat bagi metabolisme tubuh. Selain itu, trigliserida memberikan energi bagi tubuh, melindungi tulang, dan organ-organ penting lainnya dalam tubuh dari cedera.

Kalau begitu, apa bedanya kolesterol dan trigliserida ?

Kolesterol akan disimpan dalam jaringan hati atau dinding pembuluh darah. Sementara itu Trigliserida akan disimpan dalam sel lemak di bawah jaringan kulit.

Kolesterol berfungsi membangun sel-sel dan hormon-hormon tertentu dalam tubuh. Sedangkan fungsi trigliserida adalah menghasilkan energi bagi tubuh.

Selain asupan makanan dengan lemak jenuh tinggi, beberapa penyebab tingginya trigliserida adalah kegemukan, kurang gerak/olahraga, dan banyak konsumsi makanan yang kaya karbohidrat sederhana (gula, tepung).

Pada beberapa kasus, lonjakan trigliserida juga terkait dengan penyakit diabetes, penyakit ginjal atau hati, serta faktor keturunan dalam keluarga.

Faktor genetik paling sulit diatasi karena reseptor di dalam sel-sel hati yang bertugas untuk mengubah trigliserida yang berlebih untuk menjadi kolesterol telah mengalami cacat bawaan.

Meskipun begitu, konsumsi makanan yang sehat, ditambah aktivitas fisik yang teratur bisa menurunkan kadar trigliserida yang berbonus pada naiknya jumlah kolesterol baik (HDL).

Diet untuk penderita hipertrigliseridemia (trigliserida berlebih) adalah dengan membatasi asupan makanan yang tinggi lemak jenuh dan mengurangi karbohidrat sederhana seperti gula dan tepung.

Bagi mereka yang kegemukan, penurunan berat badan biasanya efektif dalam menurunkan kadar trigliserida.

Jadi, kesimpulannya, saya harus lebih sering gerak/olahraga🙂

2 thoughts on “Medical Check-up – MCU

    1. antopurwanto Post author

      biasanya medical check-up dilakukan untuk usia di atas 40th, tapi bisa juga dilakukan lebih awal sebagai tindakan pencegahan terutama jika ada keluhan fisik atau ada faktor keturunan (misal ada keluarga yang pernah menderita sakit yang bersifat hereditary/menurun seperti darah tinggi, gula, jantung dll.)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s