CT Scan ke-3 paska Glivec

Sudah beberapa bulan saya tidak mengisi blog ini.
Maklum beberapa bulan terakhir ini saya sering pergi dinas ke luar kota.

Karena sekarang saya sudah kembali di Jakarta dan waktu sudah agak luang, pas juga dengan waktu kontrol rutin, mulailah saya kembali mengisi blog ini.

Senin, 21 November 2011.

Hari ini saya cuti tidak masuk kantor untuk melakukan pemeriksaan rutin, 3 bulan sekali, CT Scan abdomen pelvis di RS Pd.Indah. Mundur sekitar 1 bulan dari jadwal kontrol pada akhir Oktober 2011, maklum karena tadi itu, sering dinas ke luar kota…

Jadwal CT Scan jam 8 pagi, namun saya diharuskan puasa sejak jam 10 malam dan sudah berada di RS jam 7 pagi.

Sebelum CT Scan, seperti biasa harus minum cairan kontras (sekitar 45 menit sebelum CT Scan) agar hasil CT Scan terlihat lebih baik.

Belajar dari pengalaman, saya minta kepada kang Dede (operator CT Scan) agar cairan kontras yang diberikan berupa “sirup Marjan” alias cairan bening tidak kental plus rasa Coco Pandan seperti sirup Marjan (atau jangan2 memang diberi sirup Marjan).

Dulu2 sekali saya mendapat cairan kontras yang seperti susu, agak kental jadi bisa bikin eneg.

Jam 8.15 proses CT Scan dimulai.
Scan tahap pertama. Setelah sekitar 15 menit saya diberikan suntikan cairan kontras (agar dapat terlihat lebih jelas sd pembuluh darahnya). Ketika cairan kontras disuntikkan, terasa perut menjadi panas dan ada rasa logam di mulut. Scan tahap kedua dimulai. Setelah itu, sekitar 15 menit berikutnya, saya menunggu sampai ada perasaan ingin buang air kecil, tanda cairan kontras sudah mengalir memenuhi kandung kemih dan sekitarnya. Scan tahap ketiga pun dimulai. Setelah ketiga tahapan Scan selesai, hasilnya tinggal di cetak.

Selanjutnya, hasil CT Scan akan dianalisa terlebih dahulu oleh dokter radiologi (proses analisa sekitar 1-2 hari) sebelum bisa kita ambil untuk disampaikan ke dokter onkologi.

Rabu, 23 November 2011.

Saya pulang kantor lebih awal karena ada janji konsultasi dengan dokter onkologi. Untuk menerobos kemacetan saya naik busway dari Jl.Thamrin sd Senayan, lumayan cepat. Dari Senayan saya naik taksi ke RS Pd.Indah. Ternyata di daerah Radio Dalam, Gandaria dan sekitarnya macet luar biasa, saya baru sampai di RS jam 6.15 PM, hampir 2 jam perjalanan dari Jl.Thamrin sd RS Pd.Indah.

Jam 6.45 PM saya masuk ruangan dokter. Beliau memeriksa hasil CT Scan, alhamdulillah baik, tidak ada tanda2 kekambuhan, tidak ada tanda2 penyebaran. Hasil lab darah, alhamdulillah baik, tidak ada tanda2 kekambuhan seperti LED yang meningkat dan Hb yang turun, tumor marker CEA juga rendah.

Namun tensi/tekanan darah agak tinggi 130/90, menurut dokter ngga apa2, sesuai usia dan mungkin juga faktor letih… maklum sudah 2 bulan belakangan ini sering dinas keluar kota, walaupun rasanya senang (tidak stress) namun jarang olahraga. Menurut dokter saya perlu lebih sering olah raga, cukup gerak2 seperti lari di tempat dalam kamar 3x seminggu.

Karena hasilnya baik, dokter memberikan kelonggaran yaitu pemeriksaan CT Scan sekarang boleh dilakukan 6 bulan sekali, alhamdulillah…

Ironi

Namun ada satu hal yang menyedihkan, berdasarkan informasi dari teman2 penderita CML (Leukemia) dan GIST yang mendapat target therapy dengan Glivec, sudah 1-2 bulan terakhir ini persediaan obat Glive kosong.

Bahkan informasinya ada 11 orang penderita yang akhirnya tidak bisa bertahan… Kekosongan persediaan Glivec ini juga dibenarkan oleh dokter saya.

Para pasien (yang mampu) sampai harus pergi ke luar negeri seperti Singapore untuk membeli Glivec. Di sana pun mereka tidak boleh langsung membeli (resep dokter dari Indonesia tidak diakui katanya), mereka harus melakukan pemeriksaan dengan dokter Singapore yang biayanya bisa mencapai Rp1 juta per pemeriksaan. Nah, barulah resep dari dokter Singapore ini bisa digunakan untuk membeli Glivec di sana…

Dengan demikian, hanya yang mampu itu lah yang bisa mendapatkan obat, sementara yang tidak mampu harus menunggu persediaan Glivec sampai beberapa lama. Absen dari konsumsi Glivec secara tidak terprogram bisa mengakibatkan resistensi terhadap Glivec yang pada akhirnya pasien harus ganti obat yang lebih “keras” atau second line… antara lain obat Tasigna… yang harganya juga lebih mahal…

Kenapa persediaan obat Glivec ini bisa sampai kosong ? menurut informasi dari berbagai sumber, obat Glivec sebenarnya sudah datang namun belum bisa keluar karena proses di Bea Cukai (aduh… bagaimana ini)

sampai2 dokter juga bilang orang2 Indonesia ini (… @$!&*!!#!%!%#$*&…/…sensor) padahal jelas2 obat ini menyangkut nyawa manusia dan juga bukan melulu untuk tujuan komersial (banyak justru dibagikan secara gratis/subsidi melalui Yayasan Kanker Indonesia).

Bahkan ada satu komentar di blog teman saya sampai bilang … mudah2an orang2 yang menghambat proses keluarnya obat ini terkena CML atau GIST…

saya tersenyum saja membacanya karena memang orang2 itu belum bisa memahami seperti apa rasanya menderita kanker darah (CML-Leukemia) dan kanker GIST. Tapi saya tidak akan mendoakan seperti itu🙂, mudah2an justru mereka2 ini diberikan hati yang baik sehingga proses persediaan obat menjadi lebih bagus…

Semoga, para sahabat penderita CML dan GIST bisa kembali mendapatkan obatnya serta bisa meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik lagi…

15 thoughts on “CT Scan ke-3 paska Glivec

  1. Rendra L.

    Dear Poer,
    Alhamdulillahirobbil’aalamiin… senang sekali mendapat kabar baik dan kemajuan menuju kesembuhan sahabat. Sedih juga mendapat cerita teman2 yg tdak bisa bertahan karena Glivec telat masuk. Berpikir positif saja, semua sudah digariskan Allah SWT. Mengenai ulah B&C itu cuma sarana kejadiannya, wallahu alam bi sawab.

    Saran saja, lain kali kalo mau ke RS PI dari Thamrin pake busway ke Harmoni terus sambung yang ke Pondok Indah via Tomang-Daan Mogot-Jl. Panjang-Arteri PI… insya Allah lebih lancar… Wasalam

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Nuhun perhatiannya…
      betul, pasti ada hikmah kebaikan dibalik semua kejadian itu.

      Mengenai busway, saya agak ngeri kalau ke Harmoni dulu, biasanya di sana kan berjubel dan menumpuk2 di dalam halte busway-nya apalagi pada saat jam2 pulang kantor🙂 Pengalaman saya justru lebih cepet pake KRL Commuter Line dari stasiun Tanah Abang ke Pondok Ranji (cuma 15 menit) terus baru deh naik mobil ke RS PI (sekitar 30 menit)🙂

      Salam

      Reply
  2. Sintha Ratna

    Pak Anto,

    Menarik sekali kisah dan pengalamannya ‘berdamai’ dengan GIST. Konon kasus ini termasuk langka… Sejauh ini adakah komunitas yang menjadi wadah berkonsultasi dan berbagi bagaimana menyiasati GIST? Kalau ada, mohon bagi info nya ya. Terima kasih.

    Salam

    Reply
    1. antopurwanto

      Terima kasih…

      GIST memang langka, bahkan banyak dokter yang bukan onkologi tidak mengetahuinya.

      Banyak sahabat GISTer yang berkumpul dalam wadah Elgeka, yaitu forum untuk Leukemia-CML dan GIST yang sama2 diterapi menggunakan Glivec produksi Novartis.

      Umumnya penanganan dilakukan melalui target-therapy atau obat yang namanya Glivec, kalau sudah resistant biasanya dilanjutkan dengan obat Sutent produksi Pfizer.

      Salam

      Reply
  3. sherly

    mlm mas anto….apa betul glivec itu tdk mexmbuh kan pexkit leukimia…? gist itu sejenis pexkit apa ya? mohon infox…tks

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      halo…

      Glivec itu kan merupakan obat target therapy bagi Leukemia-CML dan GIST, yaitu obat yang bisa menghentikan “pesan2” pada sel2 abnormal yang memicu perkembang-biakan sel yg tidak diinginkan (peningkatan sel darah putih berlebihan pada CML dan perkembangan tumor/kanker pada GIST) – untuk ilustrasi bisa melihat posting sebelumnya

      Glivec memungkinkan untuk dihentikan setelah pasien dianggap “sembuh”:

      Untuk pasien CML, dilihat dari parameter : quantitative polymerase chain reaction (Q-PCR). Hanya saja pendapat medis bisa complicated dan tidak definitive. Bahkan ada konsensus, walaupun PCR-negative (tidak terdeteksi ada sel CML), sebenarnya pasien bisa saja masih memiliki sel residu CML dalam jumlah yang sangat sedikit, itu yang menjadi alasan pasien2 tetap terus terapi Glivec. Dalam beberapa kasus, ada beberapa orang yang bisa berhenti terapi Glivec (sembuh total).

      Untuk pasien GIST, menurut konsensus, kalau jaringan kanker sudah diangkat total, bersih, maka diberikan terapi adjuvant Glivec (s.d sekitar 8 bulan), setelah itu bila hasil Scan negative, bisa dihentikan dengan kontrol CT Scan berkala. Tetapi untuk GIST yang tidak bisa diangkat atau sudah metastasis (menyebar) maka pasien2 tetap terus terapi Glivec.

      Jadi jawabannya : “sembuh” atau belum, perlu didiskusikan dengan tim dokter yang menangani.

      Oya, GIST adalah sejenis kanker langka yang terkait dengan sistem pencernaan, umumnya ada di daerah lambung/gaster. Bisa juga dilihat artikelnya di sini

      semoga bermanfat

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s