Hidup Tanpa Lambung

 

Bisakah manusia hidup tanpa lambung?
Jawabannya : bisa…

.
.
Beberapa hari ini banyak beredar informasi di internet mengenai manusia yang hidup tanpa lambung. Karena lambung saya belum lama ini dioperasi, maka saya sangat tertarik dengan cerita tersebut. Begini ceritanya :
.

 

Cerita I

Dalam sebuah artikel di BBC News, 31 Juli 2010, diberitakan dua gadis bersaudara di Inggris, Ravindra dan Meeta Singh telah mengalami operasi pengangkatan lambung karena penyakti kanker yang mengakibatkan 5 anggota keluarganya meninggal dunia.

Setahun sudah setelah operasi, keduanya belajar dengan aktivitas kehidupannya yang baru, mereka mengakui banyak hal2 yang terasa sangat berat.

Ravindra mengatakan sering merasa kecapekan dan pusing2. Dia juga takut untuk makan di luar rumah.

Awalnya dia hanya bisa makan satu sendok, setelah setahun sudah bisa makan lebih banyak, sekitar 1/3 dari sebelum operasi. Namun jika kebanyakan makan, akan terasa sangat tidak nyaman, yaitu suatu gejala yang disebut dumping syndrom (posting terdahulu).

Kedua gadis tersebut kehilangan sekitar 20% bobot tubuhnya dalam setahun.

Menurut dokter bedahnya, seseorang yang hidup tanpa lambung harus sering makan dalam porsi yang kecil. Asam lambung dapat mensterilkan makanan, namun menurutnya, sekarang ini orang sudah bisa mendapat makanan yang steril. Selain itu, lambung berperan penting dalam penyerapan zat besi dan vitamin B12 (sebagaimana telah disinggung pula dalam posting terdahulu). Sehingga pasien dapat mengalami kekurangan zat besi dan vit. B12 yang berakibat pada anemia (kurang darah/Hb-rendah) dan metabolisme tubuh yang tidak sempurna.

Cerita II

Jauh sebelumnya, di California, Amerika Serikat, diberitakan pula seorang mahasiswi Pepperdine University, Naomi Munoz telah diangkat lambungnya pada tahun 2002. Munoz mengatakan, tiga bulan awal makan melalui tabung dan sekarang menyesuaikan diri dengan pola makan yang baru. Dia harus makan dalam porsi kecil 6 kali sehari. Dia tidak bisa lagi menikmati makanan dan minuman kesukaannya — susu, cookies dan ice cream karena lactose dari produk susu sulit dicerna tanpa kehadiran lambung.

Walaupun kadang2 merasa frustasi dengan pola hidupnya yang baru, Munoz mengatakan operasi telah mengingatkan untuk beradaptasi. Minggu2 awal dengan banyak selang di tubuhnya, monitor dan selang infus (saya juga jadi keingetan nih…) membuat dia menjadi lebih peka kepada pasien penderita penyakit yang serius.

Cerita III

Bahkan pada tahun 1897, New York Times pernah memberitakan operasi pengangkatan lambung yang sukses. (Link pdf file)

Kesimpulan

Jadi, manusia bisa hidup tanpa lambung, namun tidak mudah untuk menjalaninya (tidak boleh dibilang sulit). Mudah2an ini bisa mengingatkan kita untuk menjaga lambung (bagi yang masih memilikinya) agar tetap sehat, antara lain dengan menjaga pola makan:

– mengurangi makanan yang terlalu pedas atau asam
– tidak minum yang mengandung alkohol
– menghindari minuman bersoda
– tidak makan terlalu banyak
– makan secara teratur

Betapa hebatnya Yang Maha Mencipta, betapa canggih ciptaanNya… manusia yang paling pintar pun tidak bisa membuat imitasi lambung…

15 thoughts on “Hidup Tanpa Lambung

  1. Sahabat Yogya

    Tanpa lambung, tanpa colon, tanpa rahim, tanpa mata, tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa payudara (kayak saya donk/wts:wanita tetek sebelah ha ha ha ha). Kami bisa, anda pasti bisa!!

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Alhamdulillah saya punya resepnya, guru agama saya yang menyampaikan :

      “…berserah diri kepada Allah swt., dan berbuat kebajikan…maka…tidak ada kekhawatiran/ketakutan dan tidak pula bersedih hati”

      Mudah resepnya, namun menurut saya tidak mudah mempraktekkannya…

      Salam

      Reply
  2. Sahabat Yogya

    @ Ikutan nimbrung soal resep hik…dalam GT, biasanya pasien diharuskan memiliki catatan harian…nah rasa takut, cemas, stress dan kawan-kawannya, sangat erat dengan basel temp pasien (pengalaman pribadi hik-hik ngaku). Bangun tidur usahakan suhu tubuh ada di 36,6 (optimal). Jika tidak, salah satunya mengindikasikan bahwa tekanan toxic dalam tubuh kita demikian kuat, makanya dia akan berperan sebagai monster yang menghantui diri kita hik-hik. Bentuknya jaadi rasa takut, bete, emosi tdk stabil dsb. Jika saya dalam kondisi bermonster ria…ada resepnya lagi wakakakakak. Kepanjangen nerocos di sini…maaf Pak Anto…

    Reply
  3. sahala, pontianak

    yang penting tetap semangat…menghadapi sakit, dan selalu berdoa dan tetap bersyukur. salam sehat

    Reply
  4. korleni

    Saya salah 1 org yg hidup tanpa lambung,pada tgl 7-10-2014 lambung saya di angkat melalui operasi yg memakan waktu 8jam..di karenakan lambung saya kena kangker akibat maag yg terlalu lama..setelah operasi saya harus menjalani kemoterapi dan sekarang saya tetap semangat untuk hidup walaupun banyak yg berubah salah satunya dlm hal makan.saya makan dlm porsi yg sedikit klw lebih saya rasa tidak nyaman bahkan sakit.

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Terima kasih atas sharing informasinya. Tidak banyak yang mengalami total gastrectomy atau pengangkatan seluruh organ lambung. Untuk referensi lebih lanjut nanti saya boleh diskusi ya🙂

      Salam sehat

      Reply
  5. Hartiandikha

    Tidak sengaja menemukan blog ini, padahal awalnya saya mencari tau tentang RS Dharmais krn sedang menimbang untuk keputusan ambil kesempatan bekerja disana/tidak.

    Saya jd tertarik dg liku2 pengobatan penyakit kanker. Semoga menjadi pelajaran untuk semua orang. Dan semoga bapak bisa kembali sehat menikmati hidup. Aamiin

    Reply
  6. joni

    selamat pagi pak, saya joni 33 tahun. tgl 5 februari saya periksa di dharmais dan ada polip duodenum. dokter sarankan utk operasi…dari pengalaman pak saat operasi lambung itu resiko nya bagaimana?.. resiko perdarahan, perlengketan dan kebocoran usus bisa minimal atau bagaimana?.. RS terbaik utk menurut pak di mana?.. mohon share nya pak anto.

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Sekarang ini teknologi medis sudah cukup maju. Bahkan operasi yang memiliki risiko tinggi seperti operasi lambung yang saya hadapi dikatakan oleh dokter tingkat keberhasilannya 50-50. Alhamdulillah operasi berjalan lancar dan saya dapat info dari teman2 banyak sudah dilakukan operasi sejenis.

      Risiko memang selalu ada, hanya saja memang kita perlu ikhtiar dengan disertai juga doa kepada Yang Maha Kuasa.

      Setahu saya RS besar umumnya sudah memiliki dokter yang bagus2. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa pemulihan memiliki faktor yang signifikan. Jadi kalau operasinya berjalan baik tetapi perawatannya kurang maka hasilnya tidak bagus juga.

      Pengalaman saya dioperasi di RS Pondok Indah baik. Sebelumnya saya juga pernah dioperasi di RS Bintaro bagus juga. Pernah mendapat tindakan medis di RS Pertamina dan RS Medistra, semuanya bagus2. Kalau di RS lain saya belum bisa sharing informasi.

      Semoga operasinya berjalan lancar.
      Salam sehat

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s