Terlambat?

Banyak kenalan, kolega, teman dan kerabat yang bertanya2, mengapa tumor yang besar sekali (dan ternyata positif kanker) baru dioperasi sekarang, tidak dari dulu ketika dia masih kecil…

Mungkin kalau dioperasi dari dulu tidak akan menjadi besar dan tidak akan menjadi kanker…

Tahun 2001, ketika operasi pertama dilakukan untuk mengatasi kista (di pankreas) yang juga besar, saya merasakan  suatu hal yang sangat mempengaruhi hidup saya saat itu.

Sebelumnya, saya merasa memiliki fisik yang baik. Sejak SMP saya senang dan rajin olahraga, dalam satu minggu saya bisa 3 kali berenang masing2 minimum selama 2 jam. Senin-Kamis rutin berenang dengan pelatih, plus hari Sabtu berenang dengan teman2. Sewaktu kuliah di Bandung, transportasi saya adalah sepeda. Kebayang kan, jalan2 di Bandung naik turun, apalagi waktu saya tinggal di daerah Cisitu, yang cukup tinggi. Jadi setiap hari olahraga mengayuh sepeda. Tidak hanya ke kampus tetapi juga kalau mengunjungi saudara2 yang lumayan jauh di Cikutra, Kosambi, main ke Ciumbuleuit, dll. Tidak cukup sepeda, setiap hari Minggu pagi saya ikut unit renang dan polo air dengan teman2 kampus.

Lepas kuliah, saya kerja di Jakarta. Dengan teman2 sekolah rutin main squash di Kemang Timur… Olahraga ini menurut saya cukup efektif, dalam waktu sebentar sudah keluar keringat banyak dan energi yang dikeluarkan juga banyak… O ya, saya mengenal squash sejak kuliah di Bandung, sudah mulai ke lapangan squash dekat Lapangan Siliwangi…

Setelah menikah, apalagi setelah memiliki anak, seiring dengan usia, saya mulai memilih olahraga yang lebih santai (dan disubsidi kantor), golf… Ini juga rutin sering dilakukan…

Jadi saya merasa secara fisik baik, sehingga saya merasa kaget dan shock sekali ketika harus dioperasi besar tahun 2001, untuk mengatasi kista…

Pengalaman operasi besar membuat saya cukup trauma. Berminggu2 di rumah sakit, setiap saat periksa (diambil) darah, transfusi darah berulang kali karena adanya pendarahan (juga was2 ketika darah AB di PMI habis), endoskopi yang tidak menyenangkan (waktu itu belum umum endoskopi dengan anastesi/bius), nyeri yang sangat di perut, kekhawatiran akan kualitas hidup (bisa normal kembali atau…), rasa nyeri yang hebat setelah bius operasi, dll.

Setelah operasi kualitas hidup saya menurun… Olahraga tidak bisa seperti dulu lagi, katanya tidak bisa yang high-impact. Makanan tidak bebas lagi, sebisa mungkin hindari kopi, soda, pedas, asam, lemak dll. 

Selain itu, ada perasaan tidak nyaman karena adanya tumor yang menurut hasil CT Scan menempel di pankreas (bekas kista pankreas sebelumnya) yang terus bertambah besar pasca operasi di 2001. Awalnya memang kecil, tetapi makin lama semakin besar.  Semula kita juga khawatir.

Beberapa dokter sudah menyarankan untuk operasi pengangkatan tumor. Namun ketika saya konsultasi lebih lanjut, operasi memisahkan tumor dari pankreas akan sangat berisiko… (kecuali kalau pankreasnya sekalian dioperasi, yang dampaknya mengganggu proses pencernaan serta terganggunya pengaturan gula darah alias bisa menderita diabetes dan setiap saat disuntik insulin)…

Selain risiko tersebut, dokter menyatakan bahwa tumor yang saya miliki tersebut jinak. Karena biasanya tumor ganas atau kanker akan cepat membesar dan menyebar, sementara tumor saya membesar secara perlahan dan tidak ada tanda2 penyebaran. Bahkan ada dokter yang berkata, kalau tumornya ganas bapak mungkin sudah tidak bisa hidup seperti sekarang ini (mungkin maksudnya lebih menderita…). Dokter juga mengatakan bahwa selama tidak mengganggu fungsi utama organ2 lainnya, tidak diambil juga tidak apa2.

Dengan melihat informasi tersebut, serta trauma dengan operasi sebelumnya, saya memilih untuk mencoba pengobatan alternatif. Berbagai macam metoda pengobatan alternatif sudah dicoba, mulai dari berbagai jenis herbal (herbal Cina, Arab, Indonesia, dll), pijat, totok, tusuk jarum, prana, chikung, accupresure, batu giok, sinar, tanah lumpur dll. Lokasi terapis nya pun macam2, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Karawang, Bandung, Serang (untungnya masih di Jakarta dan Jawa Barat semuanya).

Saking percayanya dengan alternatif, pernah saya mengalami pendarahan besar pada tahun 2008 namun saya tetap tenang, karena pemberi jamu mengatakan tenang saja, itu adalah darah kotor yang memang harus dikeluarkan. Sampai berhari2 pendarahan dan hb sampai di bawah 5, kepala pusingnya bukan main, badan pucat semua, rasanya dingin… Masuklah saya ke rumah sakit, ditransfusi ber-labu2 darah (1 liter sudah pasti lebih…). Saat itu, dilakukan pula endoskopi (sudah dengan anastesi sehingga tak terasa rasa yang tidak nyaman) untuk mengetahui penyebab pendarahan. Hasilnya, ada luka besar di lambung seperti borok kecil yang diperkirakan muncul karena iritasi a.l. dari jamu2an…

Sejak saat itu, saya mulai mempertanyakan pengobatan alternatif. Saya tidak mau lagi pengobatan alternatif kecuali melalui doa dan zikir…

Jadi sebenarnya ada latar belakang kenapa saya tidak melakukan operasi sebelumnya, yaitu analisa saya terhadap informasi dari para dokter, trauma operasi, tumor yang belum mengganggu fungsi tubuh serta harapan akan penyembuhan alternatif.

Namun kejadian tersebut akhirnya muncul juga…

Sejak September 2009 saya sudah mulai sering sakit, keluar masuk rumah sakit karena pendarahan di lambung sampai pada April 2010 dimana pendarahan yang terjadi tidak berhenti2…

Akhirnya dilakukan endoskopi ulang dan hasilnya mengejutkan, borok di lambung yang sudah diketahui pada tahun 2008 sudah menjadi tumor yang besar sekali (menutupi 70% lambung dan ada luka terbuka sehingga darah tidak berhenti merembes…). Akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat tumor di dalam dan di luar lambung sebelum pendarahannya menjadi fatal…

Melihat pengalaman tersebut, saya menjadi lebih yakin bahwa tidak semua pengobatan alternatif cocok untuk semua penyakit. Pengobatan paling mujarab hanya berasal dari Sang Pencipta. Kita wajib berusaha dengan sungguh2 terutama secara medis dan mengiringinya dengan berdoa.

Tidak ada kata terlambat, semua musibah ada hikmahnya yang pasti membawa kebaikan bagi kita…

Saya juga mendapat pengetahuan baru, khusus untuk penyakit saya, berbeda dengan kanker lainnya yang cepat berkembang dan cepat menyebar, GIST membesar dan menyebar relatif agak lama… Jadi hati2 kepada setiap tumor, segera periksa, kalau perlu lakukan check-up setiap tahun secara berkala, khususnya bila usia sudah kepala 4… 

Satu lagi, saya cukup bersyukur karena ternyata tumornya tidak nempel ke pankreas (walaupun itu kata CT Scan) tapi nempel ke lambung, sehingga pankreasnya alhamdulillah aman, walaupun lambungnya diambil 3/4…

Saya berterima kasih kepada paman saya, seorang dokter yang memberikan dorongan untuk berani mengambil tindakan medis diiringi dengan doa, kemudian seorang terapis alternatif (dengan doa) yang memberikan dukungan moral… Dari kedua orang tersebut saya berani mengambil keputusan untuk operasi, apapun hasilnya yang penting adalah ikhtiar yang kita lakukan dengan benar… Karena hasilnya hanya ditentukan oleh Allah swt…

3 thoughts on “Terlambat?

  1. ocekojiro

    Selama ini sy merasa menjadi manusia yang paling sakit dan sengsara di dunia ini. Trimakasih telah bersedia berbagi dan mengingatkanku untuk selalu bersyukur…
    Wass.

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      Alhamdulillah,
      Ada yang pernah menasihati saya kalau musibah (sakit, kekurangan, dll.) itu sebagai salah satu pertanda kasih sayang Allah swt. kepada hamba2Nya…
      Salam

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s