Sejarah Glivec®

 

 Berdasarkan beberapa literatur, cerita mengenai Glivec dimulai oleh 2 orang peneliti : Peter Nowell, MD, University of Pennsylvania School of Medicine, dan David Hungerford, MD, Institute for Cancer Research. Mereka dapat mengidentifikasi mutasi genetic pasien CML pada tahun 1960. Keduanya menemukan bahwa suatu bagian DNA hilang dari chromosome 22, belakangan diketahui sebagai Philadelphia (Ph) chromosome dan terjadi pada sekitar 95% of pasien CML. Penemuan ini menunjukkan bahwa pertama kalinya peneliti menemukan genetic yang abnormal dikaitkan dengan suatu jenis cancer. Dengan adanya temuan ini pula terjadi peningkatan penelitian tentang genetic yang menyebabkan cancer.

Perkembangan signifikan berikutnya (13 tahun kemudian) adalah hasil penelitian tentang CML oleh Janet Rowley, MD, University of Chicago. Diketahui bahwa bagian DNA yang hilang ternyata karena chromosome 22 bergeser menjadi chromosome 9 (translocation). Hal ini membuka jalan bagi peneliti berikutnya untuk mengaitkan translocation dengan berbagai jenis cancer.

Pada tahun 1980an, 2 peneliti California Institute of Technology, David Baltimore, PhD, dan Owen N. Witte, MD, mengidentifikasi penyebab utama CML. Ph chromosome menghasilkan enzyme yang berperan penting dalam pertumbuhan dan pembelahan sel. Ezyme tersebut, suatu gabungan protein (Bcr-Abl) meningkatkan aktivitas tyrosine kinase, mengubah instruksi genetic dari sel yang normal. Enzyme yang abnormal ini mengirim pesan yang mengakibatkan produksi sel darah putih secara berlebihan. Akibatnya, sel darah putih pasien CML meningkat menjadi 10 sampai 25 kali jumlah normal.

Untuk kasus GIST, terdapat KIT dan PDGFRA yang merupakan bagian dari tyrosine kinase receptors (TKR) yang berperan penting dalam perkembangan sel kanker GIST. Mutasi keduanya sangat umum diobservasi/ditemui pada GIST (khususnya KIT yang dikenal juga sebagai c-KIT atau CD117). Mutasi yang terjadi pada beberapa bagian gen ini menyebabkan pengkodean ulang TKR dan mengakibatkan molekul adenosine triphosphate (ATP) terikat pada receptor KIT dan PDGFRA yang telah bermutasi, dan kemudian menggerakkan pesan untuk perkembang-biakan sel secara berkesinambungan terus menerus. Setelah Glivec ditemukan, obat ini secara selektif mengikat mutant-KIT dan mutant-ATP-binding-pocket (keduanya merupakan tempat aktivitas perkembang-biakan sel), kemudian Glivec mematikan pesan2 yang salah sehingga sel2 tersebut akan berhenti berkembang-biak.

Proses tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

catatan : imatinib = glivec

Berdasarkan temuan bahwa suatu enzyme dapat menyebabkan perkembangan CML (dan GIST), peneliti menghadapi suatu tantangan sekaligus kesempatan dengan target yang jelas yaitu pengembangan obat yang dapat mem-block Bcr-Abl. Penelitian dimulai pada awal 1990 dengan ditemukannya Bcr-Abl inhibitors oleh peneliti di Novartis, Nicholas Lydon, PhD, dan Alex Matter, MD.

Selanjutnya, perbaikan dilakukan oleh 4 peneliti Novartis, Drs. Juerg Zimmermann (Medicinal Chemistry), Elisabeth Buchdunger (Cell Biology), Helmut Mett (Screening and Enzymology), dan Thomas Meyer (Enzymology). Akhirnya dapat dibuat suatu zat yang secara efektif bisa mem-block enzyme penyebab perkembang-biakan sel darah putih pada pasien CML.

Kemudian, Novartis memulai kolaborasi pada 1994 dengan Brian Druker, MD, seorang haematologist dan oncologist yang berminat pada tyrosine kinases dan CML. Mereka menemukan suatu zat yang pada akhirnya diberi nama Glivec. Secara signifikan pula, zat tersebut tidak menunjukkan aktivitas significant terhadap sel yang normal. Hal ini yang membedakannya dengan pengobatan kanker yang tradisional.
Hasil penelitian ini pertama kali dipublikasikan oleh peneliti Novartis di tahun 1996.

Perbaikan terhadap obat tersebut masih diperlukan, sehingga dilakukan pengembangan oleh Nicholas Lydon (biochemist, sebelumnya peneliti Novartis), oncologist Brian Druker dari Oregon Health and Science University (OHSU), dan Charles Sawyers dari Memorial Sloan-Kettering Cancer Center yang menguji percobaan klinis pada CML. Kontribusi juga dilakukan oleh Carlo Gambacorti-Passerini, peneliti di University of Milano Bicocca, Italy, dan John Goldman, hematologist di Hammersmith Hospital, London, UK.

Glivec mendapat persetujuan FDA (Badan Penelitian Obat dan Makanan) Amerika Serikat pada bulan May 2001. Dalam bulan yang sama, Glivec menjadi topik utama pada majalah TIME edisi May 2001 sebagai “magic bullet” untuk menyembuhkan cancer.

Seiring dengan perkembangan pengetahuan kedokteran, penelitian terus dilakukan terhadap pengobatan kanker termasuk Glivec, seperti untuk meneliti efektivitas dan efek sampingnya dalam jangka panjang…

Referensi : wikipedia.com; macmillan.org.uk; medicalnewstoday.com; glivec.com; virtualcancercenter.com;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s