Kalau melihat judulnya, banyak orang awam yang tidak kenal, tapi kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia hampir dapat dipastikan semua orang mengenalnya.
Flexy Denture alias Gigi Palsu (yang fleksibel).
Iya, belum lama ini saya dipasang gigi palsu. Maklum, salah satunya adalah faktor-U (sudah over-40) jadi di tempat gigi yang tanggal/copot sudah tidak akan tumbuh gigi lagi. Sebenarnya ada 3 gigi yang sudah copot/dicabut, tetapi yang paling penting ada 1, yaitu yang letaknya di depan. Kebayang kan kalau kita ompong di depan
Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu khawatir, saya merasa cukup “PD” lah. Tapi ada saja masukan dan komentar dari lingkungan terdekat, baik itu keluarga ataupun teman. Katanya penampilan jadi agak aneh atau kurang oke. Bahkan salah satu anak saya sempat komentar : “papa nanti di sekolah jangan buka mulut ya, malu kan kalau kelihatan temen, orangtua temen atau guru2″, he he he…
Akhirnya, saya kuatkan niat untuk memasang Gigi Palsu di dokter gigi kantor.
Rupanya prosesnya tidak sederhana. Mula2 mulut kita harus di foto alias di rontgen. Tujuannya antara lain untuk melihat kondisi di dalam gusi bekas gigi yang copot. Dalam kasus saya, berdasarkan hasil rontgen diketahui masih ada akar gigi yang tertinggal di dalam gusi. Ini harus dicabut. Agak miris juga saya, kebayang harus disuntik bius dan dicabut akar gigi yang ada di dalam gusi… Tapi demi penampilan dan untuk membahagiakan orang banyak saya beranikan diri…
Proses pencabutan, seperti biasa pasti ada rasa sakit. Tapi kali ini saya tidak merasa sakit seperti biasanya sewaktu disuntik bius. Rupanya ibu dokter sudah mengoles pasta atau salep bius di gusi tempat yang akan disuntik. Ini untuk mengurangi rasa sakit, dan biasanya diberikan pada anak2 (? lho). Rupanya ibu dokter tahu kalau saya takut disuntik
Setelah bius, seperti biasa gigi dicabut, tidak terasa karena bius masih efektif. Rasa sakit cenut2 baru akan muncul setelah efek obat biusnya hilang (sekitar 1-3 jam).
Setelah dicabut, Gigi Palsu tidak bisa langsung dipasang. Butuh waktu beberapa saat (katanya sekitar 6-8 minggu) menunggu luka di gusi sembuh dan jaringannya pulih.
Ibu dokter menawarkan kepada saya beberapa model Gigi Palsu :
1. Implant
2. Permanen
3. Non-permanen
Apa bedanya :
1. Implant
Akar Gigi Palsu ditanam dalam gusi. Bentuknya a.l. seperti ini :
Bagian akar yang ditanam adalah semacam sekrup dari logam kecil (Titanium) yang mudah diterima tubuh manusia (tidak ditolak/resisten).
Dalam waktu 6 minggu setelah pemasangan diharapkan proses pemulihan (luka karena penanaman akar) selesai. Selanjutnya akan dipasang mahkota (crown) atau bridge di atasnya.
Keuntungan metoda implant :
- Membantu mempertahankan posisi dan kondisi tulang rahang.
- Tanpa rasa sakit proses pasang-copot gigi palsu (konvensional).
- Gigi palsu menjadi stabil saat digunakan makan dan
- Bisa senyum penuh percaya diri
Beberapa hal yang membuat saya tidak ingin metode implant:
- Biayanya mahal, bisa lebih dari 10 juta.
- Cerita mertua, mengalami radang gusinya (setelah kl. 10 tahun)
- Saya ngeri karena ada logam yang ditancapkan di dalam gusi saya.
2. Permanen
Saya pikir tadinya permanen itu adalah implant, namun menurut ibu dokter berbeda, ada dua model yang saya ketahui (yang jelas model seperti ini termasuk yang konvensional dan biayanya relatif murah):
a. Permanen dengan menggunakan clasp/jepitan dari logam.
Model seperti ini yang umum kita kenal, gigi palsu masih bisa dicopot2 dan secara estetis kurang cantik karena logam penjepit/pengait akan terlihat.
b. Permanen dengan menggunakan tempelan.
Gigi asli disamping lokasi yang ompong akan dipasang mahkota. Nantinya gigi palsu akan ditempelkan pada mahkota yang ada pengaitnya. Saya jelas2 tidak memilih model seperti ini karena pengalaman pernah dipasang mahkota. Pemasangan mahkota didahului dengan pengecilan gigi asli (gigi dikikis sampai kecil – kalo ngga dibius bisa ngilu… iiii). Setelah dipasang umurnya pun tidak bisa terlalu lama, mahkota bisa copot atau rusak, sementara gigi aslinya sudah tidak normal.
3. Non-permanen
Model yang ini kata ibu dokter merupakan model yang paling mutakhir dan biayanya pun cukup mahal, walaupun tidak semahal model implant. Ini yang disebut flexy denture, karena sifatnya yang fleksibel :
Inovasi dari model ini adalah gigi palsu yang fleksibel, dapat dicopot2, ringan namun kuat, cukup nyaman karena bahannya yang cukup lentur dan tampak indah ! Persiapan pemasangan pun tidak perlu prosedur khusus dan gigi2 lain tidak ada yang diubah, cukup hanya dengan mencetak tempat gigi palsu serta membuat gigi palsunya.
Menurut ibu dokter, setiap malam sebelum tidur flexi denture harus dicopot (jangan sampai tertelan), harus disimpan dalam air guna mencegah bahan menjadi kering, kaku dan keras. Dan jangan sampai ketinggalan atau lupa tempat menyimpannya alias jangan sampai hilang karena harganya lumayan (sekitar Rp1 juta untuk 1 gigi).
Ha ha, sekarang saya sudah bisa senyum manis dengan PD…










Tanggal bersejarah pertama kali saya menggunakan flexi denture adalah 11 Juli 2011
Assalamu’alaikum Haji…. trims berat untuk info yang begitu lengkap dan mudah dimengerti. Saat ini saya juga ompong banyak, alhamdulillah semua dibagian dalam mulut (insya Allah senyum saya masih cukup manis).
Saya memang sedang mempertimbangkan untuk menggunakan gigi palsu, masalahnya saya merasakan jarak antara gigi saya mulai merenggang. Sangat mungkin karena tetangga gigi yang ompong berusaha mengisi ruang kosong yg renggang itu.
Pertimbangan yang paling berat adalah untuk memutuskan pakai yg permanen atau lepasan… kemudian masalah biayanya (maklum tidak tercover asuransi) he he he
Selamat berpuasa denga gigi baru, mohon maaf lahir bathin…
Wasalam,
Rendra L.
wa alaikum salam wr.wb.
sebelumnya saya pakai gigi palsu model konvensional (gigi palsu yang umum dikenal, pakai kawat), waktu itu (kl th.2009) harganya sedikit di atas Rp500 ribu, tidak terlalu mahal tetapi konsekuensinya kurang nyaman dipakainya.
okay, selamat berpuasa juga, mohon maaf lahir dan bathin.
Nuhun gan…