Kanker : Keturunan?

Ketika dokter memberitahu bahwa hasil tes PA saya positif kanker GIST saya jadi teringat dengan almarhum/almarhumah kakek dan tante saya. Kakek (dari bapak) dulu terkena kanker usus besar (sudah menyebar ke paru2) dan tante (adik bapak) menderita kanker payudara.

Berarti dari silsilah keluarga bapak saya sudah ada 3 orang yang terkena kanker, termasuk saya, 3 orang untuk 3 generasi.

Berdasarkan fakta seperti ini wajar dong kalau saya bertanya2, apakah kanker itu termasuk penyakit yang dapat diturunkan atau bersifat genetik?

Berdasarkan informasi di About.com diketahui bahwa ada jenis2 kanker tertentu yang dapat bersifat genetik.


Oya, artikel kesehatan di About.com ini telah direview tim yang terdiri dari dokter serta professional kesehatan dari berbagai institusi terkemuka (di USA).

Dalam salah satu artikelnya disebutkan bahwa kanker keturunan (yang dapat diturunkan) adalah suatu jenis kanker yang berkembang sebagai akibat mutasi genetik yang diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Mewarisi gen yang bermutasi tidak berarti bahwa anak tersebut akan menderita kanker, tetapi memiliki faktor risiko yang lebih tinggi.

Jenis kanker yang umum diketahui dapat diturunkan adalah:

  • Breast Cancer (Payudara)
  • Ovarian Cancer (Ovarium)
  • Prostate Cancer (Prostat)
  • Colorectal Cancer (Usus Besar)

Jadi, berdasarkan riwayat kanker alm. kakek dan alm. tante, saya memiliki risiko untuk kanker usus besar (kalau payudara lebih banyak pada wanita)…

Bagaimana saya mengetahui kalau saya memiliki mutasi genetik?

Untuk menjawabnya, dapat dilakukan tes genetik. Apabila terdapat beberapa orang dalam keluarga menderita jenis kanker yang sama, disarankan untuk konsultasi genetik dengan dokter/ahli kesehatan profesional untuk mengetahui risiko2 terhadap jenis kanker tersebut.

Dalam hal kanker payudara dan ovarium (diderita kaum wanita), keduanya dapat berhubungan karena berkembang dari mutasi genetik yang sama yang disebut gen BRCA1 dan BRCA2.

Gen BRCA mengendalikan pembiakan sel dan bertanggung jawab atas perbaikan kerusakan DNA. Jika gen-nya rusak atau mengalami mutasi, dia tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Gen BRCA merupakan pasangan, satu mengandung DNA dari ibu dan satunya lagi dari bapak. Apabila ibu atau bapak memiliki gen BRCA yang sudah bermutasi, dapat diturunkan kepada anaknya.

Saat ini sudah bisa dilakukan tes darah sederhana untuk mendeteksi gen BRCA yang telah bermutasi. Orang2 yang memiliki kanker payudara dan ovarium dapat memeriksakan dirinya, apabila hasilnya positif (terdapat mutasi genetik) informasi ini bisa bermanfaat bagi anggota keluarganya… (untuk upaya pencegahan ke depan). Orang2 yang tidak menderita kanker tersebut pun bisa juga diperiksa (mutasi gen dimaksud) apabila menginginkan.

Untuk kanker prostate, (diderita oleh kaum pria), diperkirakan 5-10% disebabkan faktor keturunan. Namun karena penelitian masih dalam proses identifikasi gen penyebab kanker prostat, belum tersedia tes yang dikembangkan untuk memeriksanya.

Selanjutnya kanker usus besar (diderita baik pria maupun wanita). Kanker ini merupakan jenis yang ketiga terbanyak di Amerika Serikat.
5-10% bisa disebabkan keturunan dan 5%-nya didiagnosa terkait dengan hereditary nonpolyposis colorectal cancer, atau HNCC.

HNCC adalah syndrome meningkatnya risiko terkena kanker usus besar yang ditandai dengan mutasi genetik tertentu.

Penelitian menunjukkan bahwa umumnya kasus HNCC terjadi karena mutasi gen MLH1 dan MSH2.

Keluarga dengan HNCC biasanya memiliki 3 faktor kesamaan :

  • 3 atau lebih anggota keluarga dekat menderita kanker usus besar
  • ada anggota keluarga yang menderita sebelum usia 50 tahun
  • kanker tersebut diderita 2 atau lebih generasi

Tes genetic sudah tersedia untuk jenis kanker ini.

Secara ilmiah sudah dapat diketahui faktor risiko untuk jenis2 kanker di atas. Pertanyaannya adalah bagaimana kelanjutannya… jangan sampai seseorang dengan hasil tes positif (mengalami mutasi genetik) menjadi lebih terbatas dalam kehidupannya, menjadi pesimis, yang pada akhirnya dapat berakibat pada hal2 yang negatif.

Walaupun hasil tes genetik positif, justeru upaya pencegahan lah yang harus dilakukan untuk menghindari terkena penyakit tersebut. Hasil positif menunjukkan risiko yang tinggi, belum pasti dia akan menderita…

Hal ini akan kembali kepada masing2 individu, prinsipnya adalah mencegah jauh lebih baik daripada mengobati…

About these ads

18 thoughts on “Kanker : Keturunan?

  1. antopurwanto Post author

    Tambahan informasi yang saya dapat dari website RS Dharmais:

    Klinik kanker keluarga RS. Kanker ”Dharmais” rupanya sudah menawarkan konseling dan tes genetik untuk orang – orang yang mempunyai resiko kecenderungan kanker familial / herediter. Pelayanan klinik ini meliputi penilaian resiko kanker perseorangan berdasarkan riwayat medis dan keluarga, pemeriksaan umum, pembicaraan yang terinci mengenai alasan dan pilihan untuk tes genetik, serta rekomendasi untuk skrining dan tindakan pencegahan kanker bagi kelompok resiko tinggi.

    Reply
  2. Sahabat Yogya

    Bicara tentang Kanker dan atau penyakit lainnya, bagi saya faktor keturunan or not bukan bagian yang penting. Yang terpenting tetap pada GAYA HIDUP. 99,9% di Komunitas kanker BARU belajar tentang kesehatan khususnya NUTRISI setelah kelabakan kena kanker (contohnya saya he he he nggak usah jauh-jauh). Dan ketika kita bicara ini pada orang yang BELUM sakit, diketawain, ini nyata! Keluarga kecil saya (Ani+Iwan=Awan) sudah mendekati 100% Gerson Therapy. Kenyataannya? Kami kemana-mana bawaannya ransum rantangan ha ha ha atau bahan makanan di bagasi mobil pasti penuh ha ha ha ribed banget kata keluarga besar kami. Mentoknya cari resto yang menyediakan jus buah murni (no ice no sugar) lagi-lagi kami ditertawakan oleh keluarga besar.
    Yang menyedihkan, di sekolah-sekolah yang menyediakan catering. Awan harus bayar catering untuk setahun saat kenaikan kelas, dan dia nggak bisa makan, karena jika makan adaaaa aja yang sakit perutlah, tenggorokan gatal lah dsb. Nasi putih pun dia hanya sedikit doyan karena sudah lama kami makan nasi merah dan hitam. Yang menyakitkan…dia tidak jarang dilecehkan teman-temannya. Untuk cari damai…jatahnya catering dari sekolah dibawanya pulang dan diberikan pada peminta-minta di lampu merah.
    Lagi-lagi….maafkan saya…ngomel apa curhat nih….
    Bicara keturunan….BRCA1 dan BRCA2 positif or not, menurut saya hanya 10-20%, yang lainnya gaya hidup.
    Tengkiyuuuu

    Reply
  3. ocekojiro

    Setahu saya yg masih awam dengan yg namanya kanker ini, bahwa SEIAP MANUSIA mempunyai bakat untuk terkena kanker apapun jenisnya, tinggal pemicunya saja yg dapat meletus kapanpun si manusia tersebut ‘lalai’ dalam menjalani kehidupannya terutama faktor makanan, minuman, sanitasi lingkungan dan bahan kimia beracun termasuk rokok.
    Dan saya tidak akan menyalahkan kakek atau buyut saya yg membawa gen kanker kepada saya hingga terkena penyakit ini, he he he…

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      ha ha ha…

      setuju, tidak boleh menyalahkan para sesepuh dan orang tua, apalagi menyalahkan nasib… dibalik semua penyakit dan cobaan pasti ada hikmah kebaikannya…

      upaya kita memang mutlak diperlukan untuk menghindari pemicu munculnya penyakit…

      Reply
  4. Florida

    Saya memang belum pernah punya teman dengan BRCA 1 atau BRCA2 yang positif. Tapi saya mengenal beberapa teman yang sembuh dari kanker dengan meminum juice manggis Xamthone plus. Saya setuju dengan komen2 di atas yang mendukung paradigma sehat.
    Mungkin dengan memperkenalkan xamthone di sini akan ada teman yang tertolong sembuh dari kanker…
    Maaf saya sekedar care bukan promosi.

    Reply
    1. Sahabat Yogya

      Maaf Florida…
      Boleh saya bertanya.
      Fenomena jus manggis ini mungkin akan sama hebohnya dengan Tahitian Noni.Sederhana yang akan saya tanyakan. Berdasarkan pengalaman, penderita CA sebisa mungkin mengkonsumsi jus segar TANPA PENGAWET. Bagaimana produk dengan produk anda kaitannya dengan pengawet? Di negeri ini hampir sepanjang tahun kita dapat mengkonsumsi buah manggis asli. Jika ada yang alami kenapa harus dalam kemasan? Sementara dibalik “care” atau apapun pilihan katanya, ada bisnis yang ditawarkan.

      Reply
      1. Florida

        Maaf mba… saya benar2 ngga ada maksud menawarkan bisnisnya. Juice ini bahkan diberikan secara gratis bagi orang-orang tidak mampu tapi membutuhkan dan memberikan garansi uang kembali jika memang tidak ada gunanya. Buat apa booming kalo ngga berguna. Buah manggis memang bisa dimakan segar di indonesia, tapi antioksidannya ada pada kulitnya. Xamthone ditawarkan untuk memudahkan proses pemanfaatan kulit manggis yang ternyata lebih bermanfaat ketimbang buahnya yg enak. Pengemasan dingin dan steril sudah cukup untuk membuatnya awet tanpa pengawet koq.
        Masalah bisnis itu terserah pelaku bisnis saja, saya hanya membagi yang saya mengerti.

        Reply
  5. Sahabat Yogya

    Maaf juga…bicara proses penyimpanan. Anda bisa bicara steril dan pendinginan. Se STABIL apa? Dan yang harus digarisbawahi, jus dengan proses masal sangat tidak mungkin dibuat melalui proses (dimana alatnya memiliki RPM dibawah angka 100)Dan jus yang dikonsumsi melebihi waktu 3-jam, tentunya ada proses oksidasi yang dilakukan/terjadi karena sifat bahan dasarnya itu sendiri. Apapun jenis buah dan sayurnya.Jika anda ingin membantu orang CA, ayok belajar bersama! Apapun produknya, apapun jualannya, ada pengetahuan yang dasar ilmunya bukan dibuat oleh produsen semata tentunya. Terima kasih.

    Reply
  6. antopurwanto Post author

    Terima kasih kepada sahabat Florida dan Sahabat Yogya, yang telah menyampaikan informasi, ide, dan pendapatnya, mudah2an bisa membawa kebaikan bagi kita… Saya yakin bahwa semua itu didasari niat yang baik.

    Banyak sekali cara orang untuk sehat. Kita wajib berusaha mencari obat/metoda dan perlu saling memberi informasi. Namun demikian, suatu obat/metoda penyehatan harus diterapkan secara hati2, karena bisa berakibat tidak baik bagi pasien dengan penyakit tertentu, terutama kanker.

    Saya ingin berbagi pengalaman, karena saya sudah pernah coba2 mulai dari buah mengkudu, buah merah, macam2 jamu, bahkan terapi pun macam2, ada terapi acupuncture, acupressure, prana, batu giok, dan lain sebagainya…

    Karena saya tidak mempelajari ilmunya, beberapa diantaranya malah berakibat negatif: jaringan tumor/kanker menjadi semakin membesar bahkan ada yang sampai mengakibatkan pendarahan hebat yang cukup fatal… Padahal obat/metoda tersebut justeru bisa menyembuhkan banyak orang. Jadi, obat/metoda untuk penyakit/kanker tertentu bisa menjadi racun bagi penyakit/kanker lainnya. Obat/metoda untuk penyakit yang sama bisa menjadi racun bagi pasien yang berbeda.

    Walaupun demikian, tetaplah saling berbagi informasi, ide dan pendapat. Apapun informasinya, pasti ada manfaat dan hikmah dibaliknya…

    Salam

    Reply
  7. Sahabat Yogya

    Setuju Pak Anto (he he btw sudah ngantor lagi? asyikkk donk, alhamdulillah). Maaf Pak Anto, saya memang kekeh dengan siapa pun yang (meski niatan baik) berusaha menawarkan produk yang mengatasnamakan menyembuhkan kanker. Teman saya sendiri, pedagang Buah Merah, ganti Tahitian Noni, ganti Gochi,sekarang kena CA juga dan dalam kondisi depresi berat. Kasihannnn…selama ini dia meyakinkan orang dengan berbagai cara untuk membeli produknya,tapi kenyataannya saat CA menghampiri tubuhnya. Apa yang saya lihat? Menyedihkan sekali. Semoga dia bertahan dan mampu memberikan testimoni atas apa yang terjadi pada dirinya.
    Terima kasih Pak Anto….

    Reply
  8. ahmad

    mungkin sedikit menambahkan bahwa mayoritas penderita kanker tidak memiliki sejarah keluarga. hanya sekitar 10 dari 100 pasien yang mewarisi gen yang sudah termutasi sehingga resikonya mendapatkan kanker lebih tinggi daripada pasien biasa. artinya, seseorang yang sudah mewarisi gen yang bermasalah seperti BRCA (utk kanker payudara), MLH1/MSH2 (utk kanker kolorektal), dan CHEK2 (double kanker payudara dan kolorektal), maka resiko dia mendapatkan kanker ketika dia mencapai umur 70 tahun bisa naik sekitar 40-80%. maka memang betul genetik tidak akan bisa menvonis tapi tapi dia bisa menghitung kemungkinan. jadi klo bmkg mengatakan 70% akan hujan, silakan di interpretasi mau bawa payung atau tidak. di jakarta sudah ada lho laboratorium Kalgen yang bisa memeriksa status genetik kanker. disamping untuk mengevaluasi resiko diatas, pemeriksaan genetik juga bisa untuk membantu pasien kanker utk terapi yg cocok buat dia, atau disebut juga personalized medicine. pengerjaan genetik ini semua dikerjakan oleh adik-adik lulusan univ terkemuka di indo, bukan di outsource ke luar negeri seperti yg dilakaukan lab lain di indo.

    Reply
  9. ahmad

    oya klo boleh sharing ilmu, untuk GIST ada terapi target yang cukup promising yaitu imatinib mesylate dan sunitinib. namun bagaimana memilihnya? data penelitian menunjukkan bahwa pasien GIST yang termutasi pada ekson 11 gen c-KIT dia memiliki respon yg baik ketika diterapi dengan imatinib (gleevec) sebanyak 400 mg. tapi kalau mutasinya di ekson 9, harus ditambahkan dosisnya hingga 800 mg. alternatifnya, kalau mutasinya di ekson 9 dari gen GIST dia juga bisa diberikan sunitinib. jadi ini yang saya maksud penting nya utk periksa gen sebelum terapi yg menggunakan ‘targeted therapy’.

    sumber sampelnya juga harus dari jaringan kankernya bukan dari darah, karena mutasinya terjadi spesifik pada kanker dan bukan pada jaringan normal. spesifisits mutasi inilah yang melahirkan istilah bahwa kanker adalah penyakit genetik.

    Reply
    1. antopurwanto Post author

      terima kasih atas info nya pa Ahmad…

      ada beberapa pertanyaan:

      1. 10% pewaris genetik itu informasi dari mana ya? akan baik sekali bila pembaca lain dapat menelusuri informasi yang ada di blog ini…

      2. risiko kanker apa saja yang bisa dideteksi oleh lab tersebut.

      3. berapa kisaran biaya, jangka waktu untuk masing2 tes… karena di RSCM sendiri sudah ada tes dimaksud (sebagai perbandingan bagi pasien)

      selanjutnya, bagi pasien GIST, sebenarnya sudah menjadi standar medis untuk diberikan Glivec (imatinib) sebagai “first line therapy” yang dosisnya tergantung dari kondisi pasien (adjuvant, metastase dlsb). selanjutnya bagi pasien yang resisten thd Glivec akan lanjut dengan sunitinib sebagai “second line therapy”. demikian informasi dari beberapa onkolog sebagaimana yang telah saya posting juga di blog ini.

      berdasarkan data dari beberapa orang dokter yang disampaikan di forum LGK (penderita CML dan GIST) di Indonesia, ada sekitar 5% yang resisten, tidak banyak… dan saya belum mendapat info bahwa yang resisten ini sudah beralih ke sunitinib…

      4. jadinya muncul lah pertanyaan ke-empat, dari publikasi ASCO (American Society of Clinical Oncology), resistensi terkait dengan exon 13, 14 atau 17. sementara untuk exon 9 bisa cukup dengan peningkatan dosis imatinib. jadi, apa perlu periksa gen terkait ekson 9 hanya untuk menentukan “targeted therapy”, sementara imatinib sudah diterima sebagai “first line therapy” dibandingkan dengan sunitinib yang belum diterima secara luas serta memiliki efek samping yang jauh lebih besar dibandingkan Glivec. imatinib (Glivec) sendiri buat sebagian pasien sudah cukup membuat tidak nyaman. selain itu, harganya sunitinib juga berkali lipat dari Glivec…

      mudah2an bisa menjadi diskusi yang bermanfaat.

      salam

      Reply
      1. ahmad

        rangkuman pertanyaan dari mas anto purwanto

        10 persen pewaris genetik
        resiko kanker apa yang bisa dideteksi oleh lab kalgen
        berapa kisaran biaya, jangka waktu untuk masiing-masing tes
        forum LGK (cml dan gist) belum ada 5% yg resisten beralih ke sunitinib
        resistensi terjadi pada exon 13, 14, 17, apa perlu exon 9 utk menentukan ‘terapi target’ sunitinib padahal kalau resisten cukup dinaikkan dosis imatinibnya

        jawab:

        Terima kasih mas anto purwanto atas pertanyaannya. sebenarnya pertanyaan ini perlu dijabarkan dalam bentuk diskusi. dan saya senang mendapatkan pertanyaan seperti ini karena terus terang setelah saya pulang ke indonesia di tahun 2007, jarang yang bisa saya ajak diskusi kanker dalam aspek genetik molekuler. mudah2an kalau berkenan mas anto dan rekans bisa berkunjung ke laboratorium kami dan bisa berdiskusi lebih leluasa.

        baik kita mulai dari pertanyaan yang saya nomori:

        1. darimana informasi 10% pewaris genetik?

        prevalensi kasus kanker yang diduga memiliki garis keturunan yaitu sekitar 10%. Perlu saya perjelas, ini bukan untuk semua kanker. kanker yang berhubungan dengan virus seperti HBV (kanker hati), HPV (kanker rahim), EBV (kanker nasofaring) hampir bisa dipastikan lebih bersifat sporadik (artinya sang penderita tidak ada sejarah kanker di keluarganya).

        jadi studi tentang kasus kanker keturunan lebih berasal dari hasil studi pada kanker payudara dan kolorektal.

        Informasi ini bisa dilihat di artikel yang berjudul “Advances in Breast Cancer: Pathways to Personalized Medicine” di publikasi di jurnal Clinical Cancer Research 2008;14(24) December 15, 2008.

        atau juga di artikel yang ditulis oleh Henry Lynch yang berjudul “Hereditary Breast Cancer: Part I. Diagnosing Hereditary Breast Cancer Syndromes” dipublikasi di jurnal The Breast Journal, Volume 14 Number 1, 2008 3–13

        2. resiko kanker yg bisa dideteksi?

        pemeriksaan genetik molekuler di KALGEN melingkupi aspek berikut:

        A. risk assessment

        B. treatment selection

        A. untuk risk assessment, pemeriksaan di kalgen bisa dilakukan kasus per kasus karena memerlukan konsultasi khusus antara keluarga pasien, dokter yang merawat dan waktu yang diperlukan dalam menentukan tindakan selanjutnya. jenis kanker yang secara prinsip dibantu evaluasi resiko di KALGEN adalah pasien yang diduga kuat memiliki hereditary syndrome seperti:
        Li Fraumeni (kanker payudara), Cowden syndrome (kanker payudara), Early Onset Breast and Ovary Cancer Syndrome (kanker payudara dan ovari), Hereditary Non-Polyposis Colorectal Cancer (kanker kolorektal), Adenomatous Polyposis Colorectal Cancer (kanker kolorektal), Broca syndrome (kanker kolorektal dan payudara)

        dimana gen yang terlibat adalah p53 (Li Fraumeni), MLH1/MSH2 (HNPCC), BRCA1/2 (early onset breast and ovary), APC, PTEN (Cowden Syndrome), CHEK2 (Broca Syndrome)

        untuk sumber DNA nya diambil dari darah tepi (peripheral blood)

        B.treatment selection

        tes ini diperlukan bagi pasien yang sudah ditegakkan diagnosis kankernya dan menghadapi pilihan untuk strategi pengobatan. biomarker genetik ini yang sudah rutin dilakukan di KALGEN

        tes mutasi EGFR untuk terapi target (tarceva, iressa) pada kanker paru primer, atau kanker paru meta
        tes mutasi KRAS dan BRAF untuk terapi target (erbitux) pada kanker kolorektal
        tes mutasi c-KIT untuk terapi target (glivec dan sutent) launching 2011 (atau on demand)
        tes amplifikasi gen Her2 untuk terapi target (herceptin) pada kanker payudara

        tes genotip HLA dgn teknik molekuler untuk transplantasi pada kasus leukemia

        untuk informasi selanjutnya bisa ditanyakan ke http://www.facebook.com/Kalgen atau info@kalgenlab.com

        3.berapa kisaran biaya?

        untuk tes seleksi pengobatan (treatment selection) rata-rata biaya sekitar 2-3 juta-an. khusus utk tes HLA sekitar 6 jutaan. waktu yang diperlukan secepatnya 3 hari, paling lama 7 hari kerja.

        untuk tes evaluasi resiko diperlukan waktu yang relatif lebih lama (sekitar 1 bulan), karena memerlukan perhatian khusus dan pendekatan multidisiplin (genetik, biomolekuler, dan klinis).

        4. Apakah perlu pemeriksaan ekson 9 pada gen c-kit untuk pemilihan terapi GIST?

        memang mayoritas penderita GIST mengalami mutasi pada exon 11 (70%) sedangkan ekson 9 (12%). saat ini belum diketahui apakah persentase ini juga berlaku untuk pasien GIST di indonesia. melihat pengalaman mutasi EGFR utk kasus kanker paru, ada prevalensi yg berbeda antara pasien eropa dengan pasien asia.

        namun perlu dilihat data berikut:

        Tumor dengan mutasi pada KIT ekson 11 tingkat respon terhadap imatinib adalah 70–85% respon obyektif, sedangkan pasien dengan mutasi KIT pada exon 9 menunjukkan tingkat respon obyektif sekitar 25–48%. (dirangkum oleh Stefan Duensing dalam Biochemical Pharmacology 80 (2010) 575–583 berjudul Targeted therapies of gastrointestinal stromal tumors (GIST)—The next frontiers)

        artinya apabila dari awal sudah diketahui jenis mutasi gen C-KIT nya, bukankah pasien bisa menghemat waktu? artinya, apabila pasien memiliki mutasi pada ekson 9 maka dia bisa langsung memiliki informed decision untuk segera memilih dosis 800 mg imatinib (dan tidak mencoba 400 mg terlebih dahulu?), atau diberikan sunitinib sebagai first line. Memang keputusan sunitinib sebagai first line harus didiskusikan dengan dokter karena terkait dengan regulasi pengobatan.

        Kami sendiri bukan klinisi sehingga masukan ini tidak boleh dianggap sebagai medical advice karena keputusan tetap berada ditangan klinisi, dan Allah Ta’ala yang menyembuhkan.

        silakan ditanyakan kembali mas Anto apabila ada yang belum jelas. saya sendiri juga aktif meneliti bersama klinisi di rumah sakit seperti Dharmais, Sarjito, RSCM, Persahabatan untuk memetakan profil genetik/ jenis mutasi pada pasien kanker di indonesia.

        wallahu a’lam bi ash showwab

        ahmad

        ahmad r utomo phd
        kalgen lab
        pulomas jakarta indonesia

        Reply
      2. antopurwanto Post author

        menarik sekali sebenarnya pengetahuan genetik molekular…

        mudah2an di waktu mendatang saya dan teman2 bisa diskusi lebih mendalam dan posting juga di blog ini mengenai hal dimaksud. dengan adanya informasi dan pengetahuan mengenai risiko genetik kanker diharapkan paling tidak keluarga pasien bisa melakukan mitigasi…

        salam

        Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s